Terbuka di tab baru
Lambang Pemerintah Provinsi Jawa Timur
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMURDinas Perpustakaan dan Kearsipan
Lambang Pemerintah Provinsi Jawa Timur
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMURDinas Perpustakaan dan Kearsipan

Disperpusip Jatim Perkuat Peran Pustakawan Sekolah Jadi Penggerak Literasi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) terus berupaya memperkuat peran perpustakaan sekolah dalam menggerakkan budaya literasi sepanjang hayat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Peningkatan Kapasitas Pustakawan dan Tenaga Perpustakaan Sekolah SMA Sederajat di Jawa Timur Tahun 2026 pada Kamis (22/10).

Kegiatan yang digelar di Hotel Movenpick Surabaya ini bertujuan meningkatkan kapasitas pustakawan dan tenaga perpustakaan sekolah dalam merencanakan kegiatan, mengelola layanan, menumbuhkan minat baca siswa, serta mempromosikan perpustakaan. Upaya tersebut menjadi semakin penting seiring perkembangan teknologi digital yang memudahkan masyarakat mengakses informasi sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam membangun kebiasaan membaca.

Sekretaris Disperpusip Jatim, Arif Widodo, menyampaikan bahwa perpustakaan diharapkan mampu melayani seluruh lapisan masyarakat serta menjadi ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

“Dahulu, masyarakat harus mendatangi perpustakaan atau toko buku untuk memperoleh sumber informasi. Saat ini, informasi dapat diakses secara cepat melalui berbagai platform digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI),” kata Arif.

Lebih lanjut, Arif juga menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pembekalan, bimbingan, dan inspirasi kepada pustakawan maupun tenaga pengelola perpustakaan tentang cara melaksanakan peran strategis melalui penyusunan perencanaan kegiatan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca siswa, pengelolaan perpustakaan sekolah, dan praktik promosi perpustakaan sekolah.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Disperpusip Jatim, Adi Wiyanto, menekankan pentingnya pengelolaan perpustakaan sekolah secara baik, terintegrasi, dan kolaboratif untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan, mengoptimalkan potensi perpustakaan sekolah, serta memperkuat pemahaman mengenai pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.

Adi juga menegaskan bahwa literasi memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan mempersiapkan generasi muda yang inovatif, kreatif, serta produktif.

“Peranan literasi itu sangat penting dalam membangun pemikiran kritis dan mempersiapkan generasi muda yang inovatif, kreatif, dan produktif,” ungkapnya.

Menurut Adi, literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca, menulis, dan menghitung, tetapi juga mencakup kemampuan menggunakan informasi, baik tertulis maupun tidak, untuk mendukung pemikiran kritis dan meningkatkan kualitas hidup. Kesenjangan kecakapan literasi pun berkaitan dengan berbagai aspek sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, penguatan budaya baca dan literasi di perpustakaan sekolah dinilai penting untuk membangun kepercayaan diri, kemampuan sosial, serta kecakapan siswa. Perpustakaan perlu dikelola secara profesional agar dapat memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi.

“Sekolah SMA sederajat harus kita kembangkan dan kita kemas melalui pendekatan penguatan kecakapan literasi kepada anak-anak kita. Maka, perpustakaan tentu harus dikelola secara profesional untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi,” jelasnya.

Dalam workshop tersebut, para peserta memperoleh materi dari empat narasumber yang membahas berbagai aspek pengembangan perpustakaan sekolah, mulai dari perencanaan hingga promosi melalui media digital.

Narasumber pertama, Anisa Kristiani Tarigan, S.Sos., dari Perpustakaan Nasional RI, menyampaikan materi mengenai perencanaan perpustakaan sekolah. Ia menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses menentukan tujuan, kebutuhan, prioritas, kegiatan, sumber daya, dan langkah-langkah pengembangan perpustakaan agar mampu memberikan layanan yang optimal kepada pemustaka.

“Perencanaan perpustakaan sekolah adalah proses menentukan tujuan, kebutuhan, prioritas, kegiatan, sumber daya dan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengembangkan perpustakaan agar mampu memberikan layanan yang optimal kepada pemustaka. Kebutuhan perpustakaan itu berbeda-beda, ada yang meningkatkan layanannya,” ujarnya.

Selanjutnya, Rizka Pratiwi, S.IIP., membahas strategi membangun budaya baca dan kecakapan literasi melalui program perpustakaan yang bermakna. Ia memperkenalkan program Aksi Emas dan Little Free Library sebagai upaya memperluas dampak perpustakaan hingga menjangkau masyarakat sekitar.

“Melalui program Aksi Emas dan Little Free Library, dampak perpustakaan tidak hanya berhenti di dalam gedung sekolah, tetapi juga meluas hingga menjangkau masyarakat sekitar dalam rangka menumbuhkan budaya literasi,” tuturnya.

Rizka juga menjelaskan empat unsur utama dalam membangun budaya baca, yaitu akses, waktu, pilihan, dan konsistensi. Siswa perlu memperoleh akses yang mudah terhadap bahan bacaan, memiliki waktu khusus untuk membaca, diberikan kebebasan memilih bacaan sesuai minat, serta dibiasakan membaca secara konsisten.

Narasumber ketiga, Meinia Prayesti Kurniasari, S.IIP., M.A., menyampaikan materi bertajuk “Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Ekosistem Literasi dalam Menumbuhkan Budaya Baca Siswa”. Ekosistem literasi merupakan jaringan aktor, sumber daya, dan praktik yang saling berinteraksi untuk menumbuhkan literasi dalam suatu lingkungan.

Dalam konteks sekolah, siswa menjadi subjek utama, sedangkan pustakawan berperan sebagai penggerak sumber daya literasi. Menurut materi yang disampaikan, pembangunan kebiasaan membaca tidak dapat hanya mengandalkan kesadaran siswa karena minat membaca kerap bersaing dengan berbagai distraksi digital. Oleh sebab itu, diperlukan struktur kegiatan yang mendorong siswa membaca secara konsisten.

Perpustakaan juga perlu diposisikan sebagai ruang pembelajaran, bukan sekadar ruang yang dikunjungi pada jam istirahat. Apabila hanya dimanfaatkan saat istirahat, perpustakaan akan sulit bersaing dengan kantin atau lapangan sebagai tempat berkumpul siswa.

Sementara itu, narasumber keempat, Norma Imamah, S.I.Pust., dan Herri H. Anwar, S.Sos., yang merupakan pustakawan Disperpusip Jatim, menyampaikan berbagai strategi serta praktik pembuatan konten promosi melalui media digital. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pengenalan dan pemanfaatan perpustakaan oleh warga sekolah.

Melalui workshop ini, Disperpusip Jatim terus mendorong peningkatan pengetahuan sumber daya manusia pengelola perpustakaan dan mutu pelayanan perpustakaan. Workshop, bimbingan, maupun kegiatan sejenis akan terus dilaksanakan, baik secara luring maupun daring, pada masa mendatang. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Disperpusip Jatim dalam mewujudkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan peningkatan literasi masyarakat. (Dki)

Pos terkait

Tinggalkan komentar pertama