
SURABAYA – Menjelang puncak Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, langkah besar ditorehkan untuk memperkuat posisi daerah ini sebagai pusat rujukan peradaban Islam. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi meluncurkan Program Studi Magister Kajian Turats di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (10/10). Program magister ini tercatat sebagai yang pertama di Indonesia.
Dalam peresmian tersebut, Gubernur Khofifah secara simbolis turut menyerahkan Beasiswa Magister Kajian Turats Pascasarjana UINSA kepada 10 mahasiswa angkatan pertama. Kehadiran program studi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk merawat, mengkaji, serta mengembangkan khazanah keilmuan ulama Nusantara sekaligus menyiapkan generasi intelektual pesantren agar tradisi keilmuan Islam terus lestari.
“Kehidupan keislaman yang moderat dan damai merupakan khazanah yang sangat penting untuk memperkenalkan kepada masyarakat dunia,” tutur Khofifah.
Menurutnya, kehadiran program magister ini diharapkan mampu memperkuat pengembangan referensi keagamaan yang tidak hanya mendalam secara keilmuan, tetapi juga menghadirkan keteduhan, kesejukan, persatuan, dan kedamaian di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa turats dan manuskrip bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, melainkan gudang ilmu, pemikiran, serta perjuangan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu mulai dari tafsir, hadis, fikih, tasawuf, hingga sejarah.
“Maka penting menggali, merawat, dan mengembangkan khazanah keilmuan ulama Nusantara sebagai salah satu kekuatan peradaban Islam yang dapat menjadi referensi dunia,” imbuhnya.
Gubernur Khofifah memaparkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar mengambil peran tersebut melalui tradisi pesantren dan nilai-nilai Islam moderat (rahmatan lil ‘alamin). Ia merujuk pada pemikiran intelektual Harvard University, Prof. Kishore Mahbubani, mengenai pergeseran pusat peradaban dunia ke Asia. Jika Indonesia—khususnya Jawa Timur—mampu mengambil momentum ini, maka Islam moderat dan toleran dari pesantren-pesantren di Jatim akan menjadi rujukan global.
Gagasan pelestarian ini sendiri bermula dari kunjungannya pada Februari 2019, di mana ia melihat teknologi pelestarian kertas rapuh asal Jepang. Berbekal pengalaman tersebut, Pemprov Jatim bergerak melakukan penelusuran naskah langsung ke berbagai pondok pesantren, mengingat banyak naskah kuno yang mulai lapuk dan terancam rusak.
Mengutip pandangan KH. Afifuddin Muhajir, Khofifah menekankan bahwa tidak ada Nahdlatul Ulama tanpa adanya Nahdlatut Turats. Dari hasil penelusuran pemetaan Pemprov Jatim melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, tercatat sebanyak 1.631 naskah di 101 titik berhasil diidentifikasi, di mana ratusan diantaranya telah didigitalkan. Bahkan, puluhan mahasiswa UINSA turut dilibatkan dalam program magang pelestarian naskah bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Menutup arahannya, Gubernur Khofifah berpesan agar turats yang tersebar di pesantren-pesantren dapat didata secara tertib dengan pencatatan penerbitan yang jelas, guna melindungi atribusi kepengarangan dan mencegah klaim sepihak dari pihak luar.
Dukungan Penuh Pihak Kampus
Sementara itu, Plt. Direktur Pascasarjana UINSA Prof. Masdar Hilmy menyatakan kesiapan penuh kampusnya dalam mengawal Program Studi Magister Kajian Turats. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran prodi ini merupakan murni gagasan visioner dari Gubernur Khofifah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian khazanah klasik pesantren.
“Jujur kami bangga karena prodi ini murni ide dari seorang Ibu Gubernur Khofifah yang concern pada dunia keilmuan dan pelestarian turats,” ungkap Prof. Masdar. “Kami siap hadir dan mengawal prodi ini memberikan manfaat dan berkah untuk pesantren dan pendidikan di perguruan tinggi,” tegasnya.
Rangkaian Seminar dan Kehadiran Syaikh Prof. Muhammad Fadhil Al-Jailani
Sebagai pelengkap rangkaian peresmian tersebut, acara dilanjutkan dengan seminar akademik bertema “Menggali Peradaban Islam di Jawa Timur melalui Pelestarian Turats Nusantara”. Sesi ini semakin istimewa dengan kehadiran ulama dan pakar manuskrip dunia, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani.
Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Prof. Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani menyerahkan secara langsung ribuan kitab-kitab turats kepada Gubernur Jawa Timur, yang kemudian diteruskan kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur serta perwakilan sivitas akademika UINSA. Penyerahan ribuan naskah klasik ini menandai dimulainya babak baru penguatan riset akademik dan pelestarian warisan intelektual Islam di Jawa Timur untuk dunia. (asn)




