
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur terus memperkuat implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) melalui kegiatan yang berorientasi pada peningkatan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui Kegiatan Pengembangan Literasi Berbasis Inklusi Sosial melalui Pelatihan Buket Kerudung yang dilaksanakan pada 2 (dua) lokus yaitu di Kabupaten Ngawi pada 21 Juli 2026 dan Kabupaten Banyuwangi pada 28 Juli 2026.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur ini menyasar pengelola perpustakaan desa replikasi TPBIS tahun 2026 dan fasilitator daerah (fasda) dinas perpustakaan dan kearsipan kabupaten/kota. Masing-masing kegiatan diikuti oleh 15 peserta disetiap lokusnya. Di Kabupaten Ngawi, kegiatan berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Banyuwangi. Narasumber kegiatan ini terdiri dari Kepala Dinas Perpustakaan Kab./Kota dan narasumber ahli atau praktisi dibidang keterampilan pembuatan buket.

Perpustakaan sebagai Pusat Pembelajaran dan Pemberdayaan
Pelatihan buket kerudung merupakan salah satu bentuk nyata penerapan konsep TPBIS yang menempatkan perpustakaan tidak hanya sebagai tempat memperoleh informasi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, pengembangan keterampilan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Buket kerudung dipilih karena merupakan produk kreatif yang memiliki nilai estetika sekaligus peluang ekonomi. Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pilihan hadiah untuk berbagai momentum, seperti wisuda, ulang tahun, pernikahan, hari raya, maupun acara lainnya. Melalui keterampilan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu mengembangkan produk kreatif tersebut menjadi peluang usaha maupun sumber pendapatan tambahan keluarga. Kegiatan ini juga diarahkan agar keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat ditularkan kembali kepada masyarakat melalui perpustakaan desa atau kelurahan. Dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar bersama sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat berbasis potensi dan kebutuhan lokal.
Setelah mendapatkan materi, peserta di kedua kabupaten mengikuti praktik pembuatan buket kerudung secara langsung dengan pendampingan narasumber. Materi praktik meliputi pengenalan konsep dan peluang usaha buket kerudung, alat dan bahan yang diperlukan, teknik melipat dan membentuk bunga dari kerudung, penyusunan rangkaian, hingga teknik wrapping. Para narasumber juga menjelaskan strategi pemasaran, layanan kepada pelanggan, serta pencatatan usaha sederhana.
Antusiasme peserta terlihat selama proses praktik. Seluruh peserta berhasil menghasilkan satu produk buket kerudung secara mandiri sesuai dengan arahan narasumber. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan praktis yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Dorong Replikasi Pelatihan melalui Perpustakaan
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar pembuatan buket kerudung, wawasan mengenai peluang usaha ekonomi kreatif, serta pemahaman yang semakin baik mengenai implementasi TPBIS di perpustakaan desa/kelurahan. Selain itu, kegiatan diharapkan mendorong peserta untuk mereplikasi pelatihan serupa di wilayah masing-masing sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas. Pelatihan ini sekaligus memperkuat komitmen perpustakaan desa untuk terus menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, keberadaan perpustakaan diharapkan semakin relevan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur mengevaluasi bahwa keberhasilan TPBIS tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari keberlanjutan dan dampak kegiatan bagi masyarakat. Karena itu, pendampingan lanjutan kepada perpustakaan desa, peningkatan kualitas pelaporan melalui Sistem Informasi Manajemen TPBIS, penguatan dukungan pemerintah desa, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola perpustakaan masih menjadi bagian penting dalam penguatan implementasi TPBIS ke depan.
Melalui pelatihan buket kerudung di Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Banyuwangi, perpustakaan kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan memperoleh informasi, tetapi berkembang menjadi keterampilan yang dapat mendorong kreativitas, kemandirian, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus direplikasi oleh perpustakaan desa dan kelurahan di Jawa Timur dengan menyesuaikan potensi serta kebutuhan masyarakat setempat. Dengan demikian, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat semakin memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal. (red/DK)


