Terbuka di tab baru
Lambang Pemerintah Provinsi Jawa Timur
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMURDinas Perpustakaan dan Kearsipan
Lambang Pemerintah Provinsi Jawa Timur
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMURDinas Perpustakaan dan Kearsipan

Diskusi Buku Lima Jam Selepas Pukul Lima: Ziarah Bahasa dan Pemberontakan Elegan

SURABAYA – Selasa (6/10), Auditorium Literasi Perpustakaan Jawa Timur penuh riuh antusiasme pembaca Lima Jam Selepas Pukul Lima karya Wina Bojonegoro. Selain sang penulis, turut hadir Vika Wisnu, penulis dan akademisi, serta Irwan Syahrir, penulis dan penerjemah. Diskusi buku dibuka dengan penampilan dramatic reading oleh PERLIMA (Perempuan Penulis Padma), yang menghidupkan sejumlah fragmen cerita di hadapan peserta.

Lima Jam Selepas Pukul Lima adalah antologi cerita pendek dwibahasa sekaligus buku ke-11 Wina Bojonegoro. Berisi 9 cerpen, buku ini memotret dilema dan kegetiran peran perempuan. Penggunaan bahasa Indonesia dan Jawa bukan sekadar pilihan artistik, melainkan bagian dari upaya untuk tetap dekat dengan bahasa ibu. Vika Wisnu menyebut pengalaman membaca karya Wina sebagai sebuah “berziarah bahasa”, alias kembali kepada bahasa dan pengalaman kultural yang membentuk cara seseorang memandang dunia. Menurut Vika, kedekatan Wina dengan Jawa, khususnya Jawa Matraman, membuat bahasa dan latar dalam cerpen-cerpennya terasa akrab.

Vika juga melihat adanya cara berpikir yang melawan arus dalam karya Wina: realitas tidak selalu ditempatkan dalam oposisi biner antara hitam dan putih, benar dan salah. Cerpen-cerpen Wina justru menciptakan semacam “ruang ketiga”, tempat berbagai kemungkinan dapat hidup berdampingan. Dalam ruang tersebut, pemberontakan tidak selalu hadir secara keras dan terbuka. Ia dapat muncul secara elegan, melalui cerita-cerita yang tampak sederhana tetapi menyimpan kritik terhadap keadaan.

Persoalan perempuan juga menjadi salah satu pembacaan penting. Wina mengatakan bahwa ia memilih banyak menulis dari perspektif perempuan karena dalam kehidupan nyata, perempuan sering kali berada dalam situasi ketika tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan.

Pandangan tersebut kemudian berkelindan dengan gagasan yang disampaikan Vika. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang terlihat besar. Upaya untuk membuat perempuan memiliki ruang dan daya mungkin tampak kecil ketika berdiri sendiri. Namun, ketika dilakukan berulang dan berlipat ganda, dampaknya dapat menjadi signifikan.

Irwan Syahrir turut membaca karya Wina dari sisi bentuk dan pengalaman pembaca. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah pilihan sudut pandang dalam cerita. Jika keterhimpitan tokoh ingin dibuat semakin dekat dengan pembaca, mengapa tidak menggunakan sudut pandang orang pertama? Pertanyaan tersebut membuka pembacaan lebih jauh mengenai bagaimana pilihan perspektif menentukan jarak emosional antara cerita dan pembacanya.

Irwan juga melihat karya-karya Wina dalam buku ini memiliki nada yang lebih tenang dibandingkan Kisah-Kisah Pembunuh Sepi, karya sebelumnya. Namun, ketenangan tersebut tidak membuatnya kehilangan daya. Justru, Wina menunjuk cerpen Negeri Angka sebagai contoh bagaimana sastra dapat menyampaikan sindiran terhadap persoalan politik, termasuk nepotisme. Ketika ditanya lantas apa solusinya, Wina menjawab, baginya penulis dan seniman memiliki hak untuk hadir sebagai pihak yang mengkritisi realitas “saja”.

“Tugas penulis memotret, bukan memberi solusi,” tutur Wina. Baginya, sastra tidak harus menawarkan jawaban atas persoalan yang diangkat. Dengan memotret kenyataan secara jujur, sastra justru dapat membuat pembaca melihat persoalan dari sudut yang sebelumnya luput dari perhatian.

Diskusi juga dilengkapi dengan pembacaan cerpen Negeri Angka oleh Didi Cahya. Pembacaan tersebut menjadi jembatan antara teks dan pembaca, sekaligus memperlihatkan bagaimana cerita dapat memperoleh makna baru ketika dihadirkan melalui suara dan interpretasi orang lain.

Pada akhirnya, Lima Jam Selepas Pukul Lima memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu harus datang dengan suara yang lantang. Ia dapat bekerja melalui bahasa yang dekat, cerita yang tampak sederhana, atau pengalaman perempuan yang selama ini dianggap biasa. Namun, ketika maknanya dibicarakan, diperdebatkan, dan ditafsirkan kembali di ruang-ruang literasi, gaungannya lantas terdengar lebih keras.

Diskusi buku ini sekaligus menjadi salah satu bentuk komitmen Perpustakaan Jawa Timur dalam menghadirkan ruang silaturahmi ide, gagasan, maupun budaya bagi penulis, pegiat literasi, dan masyarakat. Perpustakaan Jawa Timur terus berupaya menjadi tempat belajar, diskusi, dan rekreasi yang terbuka bagi siapa saja. (hum)

Pos terkait

Tinggalkan komentar pertama