
- Penulis : Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., Drs. Supratomo, M.Si., Drs. Abimanyu Poncoatmojo, M.M., Soekaryo, S.H., Jempin Marbun, S.H., M.H., Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si.
- ISBN : 978-623
- Jumlah Halaman : 152
- Tahun Terbit : 2026
- Cetakan : 1
Gandrung masih menari di panggung-panggung desa Banyuwangi, tetapi kini hampir selalu ada layar telepon genggam yang terangkat di antara penontonnya. Pertunjukan itu disiarkan ke orang-orang yang tidak hadir di tempat. Dari pemandangan sederhana inilah Gandrung di Atas Layar: Menjaga Budaya Osing di Era Digital bermula. Buku ini bertanya bagaimana budaya Osing bisa tetap hidup ketika cara orang menyaksikan, menyimpan, dan mewariskan tradisi sudah berubah.
Untuk menjawabnya, buku ini lebih dulu mengajak pembaca mengenal masyarakat Osing dan tanah Blambangan, mulai dari hikayat leluhur, ritual Seblang, Mepe Kasur, Kebo-Keboan, dan Tumpeng Sewu, sampai bahasa Osing sebagai penanda jati diri. Pembahasan berlanjut ke kesenian Gandrung, Barong, dan Angklung Paglak, batik Gajah Oling, busana adat, kopi, kuliner, dan rumah tradisional yang masing-masing menyimpan makna dan filosofi.
Menjelang bagian akhir buku beralih ke upaya merawat semua itu di era digital. Di sini dibahas digitalisasi ritual dan musik Osing, fungsi arsip digital, serta peran perpustakaan daerah dalam menyediakan informasi budaya. Buku ini juga menawarkan langkah konkret, seperti pelatihan literasi digital berbasis komunitas, pelibatan generasi muda, dan gagasan Repositori Budaya Osing.
Penasaran mengapa seorang penari Gandrung bisa begitu dicintai, atau apa arti sebuah kasur yang dijemur di depan rumah? Mari buka halaman demi halaman buku ini dan kenali budaya Osing dari dekat dan menyelami bagaimana tradisi harus dilestarikan untuk generasi mendatang.





