Setelah menerbitkan kitab kompilasi karya beberapa ulama Jawa Timur di tahun 2022, Majmū`ah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Ba`ḍ `Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur bersama Nahdlatut Turots pada tahun 2025 kembali menerbitkan kitab kompilasi serupa. Judulnya Majma` al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār. Secara harfiah judul ini bermakna “tempat berkumpulnya cahaya yang berasal dari risalah orang-orang baik”. Jadi, dengan mengambil judul tersebut, kitab kompilasi terbaru ini berupaya menampung cahaya kebaikan yang diajarkan oleh ulama-ulama salih yang berasal dan/atau berkiprah di Jawa Timur.
Sebagaimana kitab kompilasi sebelumnya, ada lima karya yang ditampung dalam Majma` al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār ini. Mulai dari Miftāḥ al-Mannān fi aṭ-Ṭarīqah wa al- Ḥaqīqah yang menguraikan tasawuf, Asās al-Imān wa al-Islām tentang akidah dan fikih salat, Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani yang menjelaskan syair-syair nasihat (qaṣīdah) Imam Al-Haddad, Qaṣīdah liṣ Ṣibyān yang berupa syair-syair tentang ilmu tauhid bagi anak-anak, sampai Ar-Risālah at-Tauḥīdiyyah yang memuat selawat dan doa dalam bentuk sajak dan syair.
Kelima karya tersebut ditulis dalam bahasa Arab sebagaimana manuskrip-manuskrip aslinya. Selain itu, pada setiap karya ditampilkan foto halaman pertama dan halaman terakhir manuskrip yang dibukukan. Sebelum dibukukan, tentu ada proses tahkik (taḥqīq, verifikasi) dengan membandingkan beberapa manuskrip, mengoreksi kesalahan tulis (typo), memperjelas tulisan pada manuskrip yang buram dimakan usia, dan memberikan catatan kaki apabila diperlukan.
Penulisan karya dalam bahasa Arab memiliki nilai lebih tersendiri bagi para ulama pesantren di Nusantara. Kalau toh mereka menulis dalam bahasa-bahasa lokal seperti bahasa Jawa, Madura, Sunda, atau Melayu, huruf yang digunakan pada dasarnya tetaplah huruf Arab dengan modifikasi seperlunya (bdk. Bruinessen, 1994: 88).
- Miftāḥ al-Mannān fi aṭ-Ṭarīqah wa al- Ḥaqīqah
Karya ini disusun terutama berdasarkan pengajaran-pengajaran yang diterima oleh Kiai Sholeh Tambak Agung, Bangkalan, Jawa Timur dari dua orang guru beliau: Kiai Abdul Mannan At-Tarmasi, Pacitan dan Kiai Imam Asy’ari Karang Gayam, Mojokerto. Kiai Sholeh Tambak Agung terkenal dengan sebutan “Kiai Pacitan” karena dalam berbagai ceramah dan pengajaran beliau acap kali mengutip petuah-petuah Kiai Abdul Mannan At-Tarmasi (w.1862) dari Pacitan, putera Raden Ngabehi Dipomenggolo I dan murid Kiai Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Kiai Abdul Mannan adalah pendiri Pondok Pesantren Tremas Pacitan yang berdiri pada sekira tahun 1820.
Terdapat lima manuskrip yang dijadikan rujukan untuk memvalidasi karya tersebut. Dua manuskrip disalin oleh Kyai Sholeh Tambak Agung, dua manuskrip disalin oleh Kyai Abdurrahman Padangan, Bojonegoro, serta satu manuskrip dari Ponpes Sumur Rombuh, Kwanyar, Bangkalan. Gambar hasil pindai halaman pertama dan halaman terakhir dari kelima manuskrip ini ditampilkan sebelum teks inti Miftāḥ al-Mannān.
Siapakah pengarang Miftāḥ al-Mannān? Tidak ada petunjuk siapa sebenarnya yang mengarang kitab ini. Hanya saja, melihat begitu luas penyebaran dan begitu banyak ulama besar yang mengajarkan karya ini, patut diyakini bahwa karya ini ditulis oleh seorang ulama yang sangat mumpuni dan disegani.
Terdiri dari 29 halaman inti, karya ini membahas tema-tema seputar tasawuf, tarekat, dan hakikat secara ringkas dan padat. Di dunia santri, tema-tema seperti ini tidak boleh diakses sembarang orang. Dalam bagian pengantar, Lora Utsman Hasan Al-Akhyari, Ketua Nahdlatut Turots sekaligus cicit Kyai Sholeh Tambak Agung, mewanti-wanti kepada setiap pembaca agar mencegah para pemula, mereka yang tidak memiliki bekal ilmu yang cukup, atau mereka yang tidak didampingi guru, mengakses karya ini.
Uraian singkat tentang konsep dasar saling keterkaitan antara syariat dan hakikat menjadi pembuka Miftāḥ al-Mannān. Syariat tanpa hakikat adalah kebatilan, hakikat tanpa syariat adalah kezindikan. Hakikat adalah perkara batin, sementara syariat adalah urusan lahir. Keduanya tak boleh dipisahkan. Setelah seseorang menunaikan semua kewajiban syariat yang disampaikan oleh Allah melalui Nabi saw., ia harus berupaya untuk terus-menerus menyempurnakan pemenuhan syariat tersebut dengan penghayatan, pemusatan hati, dan pikiran hanya kepada Allah (murāqabah). Dengan kata lain, menurut hemat penulis, beribadah dan melakukan semua perintah syariat tanpa menghayatinya secara sungguh-sungguh sebagai pendekatan kepada Allah SWT adalah sebentuk syariat tanpa hakikat.
Bagian-bagian selanjutnya menjelaskan tentang zikir, keutamaan zikir, serta adab dan syarat zikir. Zikir adalah pembuka hati, demikian tertulis dalam bagian ini. Seseorang tak akan sampai kepada Allah kecuali dengan langgengnya zikir di dalam hati yang bersih sedemikian hingga ia tak berpaling sedikitpun kepada selain Allah. Dan zikir yang paling utama adalah lā ilāha illa-Llah, tiada Tuhan selain Allah.
“Bersungguh-sungguhlah dalam berzikir. Jangan kau tinggalkan zikir meskipun kau belum mampu menghadirkan Allah dalam hatimu saat berzikir. Kelalaianmu terhadap Tuhan di dalam ketiadaan zikir jauh lebih buruk daripada kelalaianmu saat berzikir.”
Tak terlewat, kitab ini juga memuat ajakan untuk senantiasa memperbaiki akhlak, berbaik sangka, tidak bergantung kepada manusia, menjalankan sikap wara’ (mengonsumsi barang halal secukupnya, tidak berlebihan; menjauhi hal-hal yang disangsikan kehalalannya, apalagi yang jelas diharamkan), menghindari bicara yang tidak perlu, menjauhi sikap sombong, dan sebagainya.
Bagian terakhir karya ini adalah pasal tentang hakikat. Membaca kalimat demi kalimat pada bagian ini, penulis menemukan relevansi pesan Lora Utsman Al-Ahyari di bagian pengantar. Bagian ini mengupas konsep-konsep tasawuf seperti fanā’, waḥdat al-wujūd, ḥijab, atau musyāhadah yang rawan disalahpahami apabila diakses oleh orang yang tidak memiliki bekal keilmuan cukup dan tanpa pendampingan guru pembimbing yang kompeten. Oleh karena itu, bagian ini tidak penulis uraikan di sini.
- Asās al-Imān wa al-Islām
Karya ini dibukukan berdasarkan manuskrip yang dikarang dan ditulis oleh K.H. Muhammad Syarqawi (w. 1911), seorang santri alim kelahiran Kudus, Jawa Tengah yang merantau ke Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur dan kemudian mendirikan Pondok Pesantren An-Nuqayyah di sana. Menurut salah satu pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayyah, K.H. Abdul A’la Basyir, sebagaimana dikutip NU Online Jatim (20/8/2021), Kiai Muhammad Syarqawi gemar menuntut ilmu di berbagai pesantren. Sebelum bertemu Syaikhona Kholil Bangkalan di Makkah, beliau pernah nyantri di Sarang, Pontianak, Malaysia, dan Pattani, Thailand. Bahkan ada yang mengatakan beliau pernah belajar kepada Syekh Nawawi Banten. Shaleh (2020:26), mengutip Kuntowijoyo (2002), mencatat kiai tersebut sebagai salah satu pejuang muda yang membela para petani di daerah Kudus.
Sesuai dengan judul panjangnya: Risālah fi al-`Aqīdah wa Fiqh Ṣalāt al-Musamma bi Asās al-Imān wa al-Islām, kitab ini menjelaskan secara singkat dasar-dasar akidah Islam dan seluk-beluk fikih yang terkait dengan ibadah salat. Di bagian mukadimah, penulis menyampaikan latar belakang pemilihan tema salat: bahwa penulis merasa banyak orang yang sibuk dengan urusan duniawi sehingga melalaikan kewajiban-kewajiban agama, terutama salat.
Tak ada yang baru dalam kitab ini. Akidah Islam yang dijabarkan adalah enam rukun iman sebagaimana kitab-kitab akidah lainnya. Begitu pula tentang rukun Islam dan konsep ihsan semuanya sama dengan literatur-literatur standar lainnya. Tata cara bersuci dan salat yang menjadi bagian utama kitab ini pun tak berbeda dengan kitab-kitab fikih Mazhab Imam Syafii lainnya. Kesamaan ini tidak dimungkiri oleh penulis. Beliau mengatakan bahwa kitab ini hanya menuangkan dan mengumpulkan fatwa-fatwa para ulama.
Sebenarnya banyak karya ulama Nusantara yang bukan sekadar menulis ulang substansi kitab-kitab yang telah ada sebelumnya. Syarḥ Manẓūmah Irsyādul Ikhwān li Bayāni Aḥkāmi Syurbil Qahwah wa ad-Dukhān karya Syekh Ihsan Jampes, Kediri, misalnya, tidak hanya menulis ulang pendapat-pendapat para ulama tentang hukum mengonsumsi kopi dan rokok, tetapi juga melakukan analisis atas pendapat-pendapat tersebut dan kemudian memberikan pendapat sendiri yang kontekstual. Karya-karya Syekh Nawawi Banten juga banyak menawarkan perspektif baru.
Namun demikian, menulis ulang, membaca ulang, dan mempelajari ulang apa yang diajarkan para ulama dan guru tetap saja menjadi salah satu etos belajar di dunia santri dan pesantren. Tujuannya bukan hanya merawat ingatan, tetapi juga mendapatkan aliran berkah. Maka tak mengherankan jika ada satu kitab dipelajari berulang-ulang di pesantren, atau ada santri yang berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mempelajari kitab yang sama, atau kiai senior yang mengaji kitab yang sudah biasa ia ajarkan di pesantrennya pada seorang kiai muda lantaran kiai muda itu adalah putra gurunya.
Walhasil, sebagaimana kitab-kitab fikih lainnya, Asās al-Imān wa al-Islām menjelaskan secara singkat rukun iman, rukun Islam, konsep ihsan, pembagian air dilihat dari sudut pandang fikih bersuci, pembagian najis, syarat dan tata cara wudu, hal-hal yang mewajibkan mandi besar dan tata cara mandi besar, tayamum, dan salat. Sesuai judul kitab, tema salat dijelaskan secara panjang lebar oleh penulis.
Dalam beberapa kesempatan, penulis memberikan perhatian dan penekanan pada aspek-aspek linguistik bacaan salat yang harus dipenuhi. Takbiratulihram sebagai pembuka salat harus diucapkan dalam Bahasa Arab; menggunakan lafaz jalālah (Allah, bukan ar-Rabb, al-Malik, atau sebutan-sebutan lain untuk Tuhan); huruf hamzah a pada kata Allah tidak boleh dibaca panjang, begitupun huruf ba’ pada kata akbar; tidak boleh menambahkan kata hubung wau sebelum kata Allah sehingga menjadi kalimat wallahu akbar. Dalam membaca Al-Fatihah, setiap huruf harus dibaca jelas sesuai makhraj atau cara pelafalannya. Ada 138 huruf (atau 156 huruf apabila tasydid dihitung sebagai huruf tersendiri) dalam Al-Fatihah.
Akhirnya, kitab Asās al-Imān wa al-Islām ditutup dengan berbagai macam bacaan selawat Nabi.
- Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani
Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani adalah kitab syarah (penjelasan, uraian) yang ditulis oleh Kiai Ahmad Anwar Sembilangan (wafat sebelum 1343 H / 1925 M) atas beberapa bait syair Imam Al-Hadad (w. 1720 M). Selain kumpulan doa dan bacaan Rātibul Haddād, kitab Naṣā’ihud Dīniyyah yang cukup populer di Nusantara, serta beberapa kitab lain, Imam Al-Haddad diketahui mengarang banyak sekali syair (qaṣīdah). Beberapa di antaranya adalah 1 rumpun syair, terdiri dari 43 bait, dan diawali dari “Iżā syi‘ta ‘an taḥyā sa’īdan mada al-‘umr” yang uraikan oleh Kiai Anwar Sembilangan dalam kitab ini. Pembaca yang berminat bisa mengeksplorasi lebih banyak lagi syair-syair Imam al-Hadad, misalnya, dalam kitab Dīwān al-Imām al-Ḥaddād yang mengompilasi lebih dari 150 rumpun syair atau kitab Manhallul Wurrād yang digunakan sebagai pembanding dalam pembukuan Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani ini.
Pada manuskrip aslinya, Kiai Ahmad Anwar Sembilangan yang pernah berguru di Hijaz kepada Syekh Nawawi Banten, Syekh Nahrawi Banyumas, Syekh Abu Bakar Syatha, dan Syaikhana Kholil Bangkalan, menuliskan setiap baris syair karya Imam Al-Haddad ini dalam huruf-huruf berukuran besar dan jarak antarbaris yang cukup renggang. Beliau kemudian menambahkan penjelasan dalam bentuk interlinear di antara satu baris dengan baris lainnya maupun marginalia di tepi halaman manuskrip.
Kitab Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani diawali dengan uraian bait pembuka:
Iżā syi‘ta ‘an taḥyā sa’īdan mada al-‘umr
Jika engkau ingin hidup beruntung di sepanjang umur
Wa tuj’ala ba’d al-maut fī rauḍat al-qabr
Lalu setelah mati engkau ditempatkan di taman indah di dalam kubur
Dengan bait pembuka di atas, Syarḥ al-`Allāmah as-Sambilangani kemudian menjabarkan nasihat Imam Al-Haddad bagi setiap pembaca muslim agar hidupnya selamat sejahtera di dunia dan akhirat. Beberapa nasihat tersebut antara lain adalah agar pembaca senantiasa memperbagus keimanan dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip akidah yang diajarkan Allah SWT dan Nabi Muhammad saw. sebagaimana diformulasikan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w. 936 M); memperdalam pengetahuan dan pengamalan agama; mendaras dan merenungi Al-Quran secara ajeg dan rutin; selalu berzikir dan mengingat Allah; menjalani hidup dengan kesungguhan dan kesabaran; bersyukur dalam kata dan perbuatan; tawakal dan ikhlas kepada Allah; bermurah hati dan rajin sedekah tanpa takut jatuh dalam kemiskinan; selalu waspada dengan dunia; jangan mendengki dan membuka aib saudara; serta jangan rakus dan tamak.
Kitab ini diakhiri pesan-pesan untuk selalu mengerjakan salat lima waktu secara berjamaah, menjalankan salat dan ibadah malam, serta senantiasa bertaubat dan beristighfar.
- Qaṣīdah liṣ Ṣibyān
Qaṣīdah liṣ Ṣibyān adalah naẓm (bait-bait syair) tentang ajaran tauhid untuk anak-anak dan santri pemula yang disusun oleh K.H. Sholeh Tsani (w. 1902 M), pemangku ke-4 Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Bungah, Gresik. Karya yang dituangkan dalam kompilasi kitab ini didasarkan pada manuskrip Qaṣīdah liṣ Ṣibyān tulisan tangan menantunya, Kiai Abdurrahman. Karya-karya lain yang disusun oleh K.H. Sholeh Tsani di antaranya Kitābus Syurūṭ yang menjelaskan syarat dan rukun ibadah-ibadah, mulai dari salat, puasa, zakat, haji, dan berbagai bentuk muamalah atau Tashīlul ‘Awām fī Mas’alatiṣ Ṣiyām yang menguraikan petunjuk praktis tentang pelaksanaan puasa.
Ada 45 bait syair dalam Qaṣīdah liṣ Ṣibyān. Setelah tiga bait pembuka, bait-bait kitab ini menjelaskan 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat ja’iz (kewenangan) Allah; dilanjutkan tiga bait tentang empat sifat wajib, empat sifat mustahil, dan satu sifat ja’iz (manusiawi) para rasul. Kalau ditotal, ada 50 doktrin keimanan yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Tak ketinggalan, kitab ini juga menjelaskan kewajiban untuk mengimani keberadaan para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, qadla’ dan qadar, serta kehidupan pascadunia.
Di banyak pesantren dan madrasah diniyah di Jawa, karya semacam Qaṣīdah liṣ Ṣibyān yang menguraikan pokok-pokok keimanan dalam format syair juga diajarkan kepada santri-santri pemula atau murid-murid belia. Karya tersebut sangat populer di kalangan santri. Judulnya ‘Aqīdatul ‘Awām karya Syekh Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki (w. 1846 M), seorang ulama mufti Mazhab Maliki di Makkah dan salah satu guru dari banyak ulama Nusantara. Hanya saja, dengan jumlah bait yang lebih banyak, 57 bait, ‘Aqīdatul ‘Awām menjelaskan pokok-pokok akidah secara lebih rinci.
- Ar-Risālah at-Tauḥīdiyyah
Risalah ini disusun oleh K.H. Hasan Abbas Munadi (w. 1988 M), pengasuh kedua Pesantren Tugung, Sempu, Banyuwangi. Pada masa khidmahnya, pesantren yang didirikan oleh mertuanya itu ia beri nama Al-Azhar. Ia pernah berguru ke banyak pesantren dan kiai ternama, di antaranya kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, para ulama Hijaz, dan di Universitas Al-Azhar Mesir.
Ar-Risālah at-Tauḥīdiyyah, yang selesai ditulis pada tahun 1967, memuat selawat dan doa dalam bentuk syair. Di risalah ini, setelah menyampaikan keutamaan ilmu dan ulama, K.H. Hasan Abbas Munadi menuangkan 16 rangkaian selawat dan doa.
Referensi:
- K.H. Muhammad Syarqawi, dkk.2025. Majma` al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār. Surabaya: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
- Bruinessen, Martin van. 1994. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Yogyakarta: LKIS.
- Ahmad bin Abi Bakar bin Smith. tt. Manhallul Wurrād min Faiḍ al-Imdād Syarḥ Abyāt al-Quṭb Abdillāh ibn ‘Alāwiy al-Ḥaddād.—.
- Shaleh, Badrus. 2020. Sastrawan Santri Etnografi Sastra Pesantren. Semarang: Elsa Press.
- Al-Haddad.tt.Dīwān al-Imām al-Ḥaddād.—.
- https://jatim.nu.or.id/madura/kiai-syarqawi-sang-petualang-ilmu-dari-makkah-hingga-thailand-h680e diakses pada 16 Juli 2026.
- https://www.laduni.id/post/read/517389/ziarah-di-makam-kh-abbas-hasan-munadi-muasis-pesantren-al-azhar-tugung-banyuwangi diakses pada 2 Agustus 2026.
- https://radarbanyuwangi.jawapos.com/radar-genteng/2204130013/diusir-syaikhona-kholil-kiai-abbas-lari-ke-banyuwangi diakses pada 2 Agustus 2026.

