Surabaya – Siapa saja yang pernah belajar aksara Jawa, hampir dipastikan pernah juga “berkenalan” dengan sosok Aji Saka. Selasa (21/7/26) lalu, Perpustakaan Jawa Timur kembali mengulik sosok Aji Saka dalam program Siniar Khas Jatim (Khazanah Naskah Kuno dan Repositori Jawa Timur) yang disiarkan secara luring melalui Zoom Meeting. Mengambil tajuk “Aji Saka: Warisan Literasi dan Peradaban”, kegiatan ini digelar sebagai bentuk diseminasi cerita Aji Saka yang akan diusulkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026.
IKON merupakan program Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk merawat sejarah melalui pendaftaran naskah kuno yang memiliki nilai penting bagi peradaban bangsa Indonesia. Mengusung tujuan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap naskah dan penguatan identitas budaya bangsa, kepastian naskah-naskah IKON senantiasa terjaga melalui pelestarian, pengkajian, dan diseminasi naskah.
Sosok Aji Saka merupakan bentuk ingatan masyarakat yang terstruktur secara kolektif dan berdampak sangat luas bagi masyarakat Jawa, Sunda, Bali, dan Indonesia. Aji Saka menjadi simbol lahirnya tradisi aksara Jawa yang merepresentasikan perkembangan literasi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di Nusantara. Terlepas dari perdebatan Aji Saka sebagai legenda atau kisah nyata, Aji Saka telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam ingatan masyarakat Indonesia, serta menjadi refleksi penting mengenai bagaimana tradisi tulis berkembang sebagai pondasi terbentuknya peradaban.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., menegaskan bahwa naskah kuno bukan sekadar benda warisan budaya, melainkan sumber pengetahuan yang merekam perjalanan intelektual, sosial, keagamaan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat Nusantara.
“Naskah kuno merupakan warisan intelektual dan kebudayaan dan menjadi ingatan kolektif masyarakat yang menyimpan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, serta sejarah peradaban yang harus dijaga bersama. Pelestarian tidak hanya dilakukan melalui pelestarian fisik, tetapi juga melalui diseminasi agar dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang,” ujar Tiat.
Menurut Tiat, program Khas Jatim merupakan salah satu bentuk ikhtiar Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung pelestarian naskah kuno serta memperkuat ekosistem literasi berbasis naskah kuno.

Diskusi menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang filologi, Dr. Abimardha Kurniawan, M.A., serta dimoderatori Mardhayu Wulan Sari, M.A. Keduanya membahas berbagai perspektif mengenai Aji Saka, tradisi literasi Nusantara, perkembangan aksara, serta posisi naskah kuno sebagai sumber primer dalam penelitian sejarah dan kebudayaan.
Cerita Aji Saka pada tahun 2026 akan diajukan menjadi Ingatan Kolektif Nasional oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Malang, Universitas Indonesia, Pemerintah Desa Ngadas (Kabupaten Malang), Keluarga Bapak Ngatono (Almarhum. Dengan menjadi bagian dari upaya mendukung program nasional pelestarian Ingatan Kolektif Nasional (IKON), harapannya berbagai warisan dokumenter Indonesia dapat terus terjaga, terdokumentasi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Disperpusip Provinsi Jawa Timur terus berkomitmen menjadikan pelestarian naskah kuno tidak hanya sebagai upaya menjaga masa lalu, tetapi juga sebagai investasi pengetahuan untuk membangun masa depan. Program Khas Jatim diharapkan mampu menjadi jembatan antara warisan budaya dengan perkembangan teknologi, sehingga khazanah intelektual Nusantara tetap hidup, mudah diakses, serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. (*wdp)

