Perkuat Kompetensi Pengelola Perpustakaan, Disperpusip Jatim Gelar Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi

Surabaya – Di era digital saat ini, perpustakaan dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Salah satu kuncinya adalah pengelola perpustakaan yang melek dan mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam mengelola dan memberikan layanan perpustakaan. Berangkat dari hal ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi Komunikasi (SPP-TIK) Program Replikasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 8–9 Juni 2026 di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari pengelola perpustakaan desa/kelurahan mitra replikasi tahun 2026, Fasilitator Daerah (Fasda) kabupaten/kota, serta Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Jawa Timur. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengelola perpustakaan dalam mengembangkan layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi guna mendukung implementasi Program TPBIS. Melalui bimbingan teknis (bimtek) ini, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, memperluas akses informasi, memperkuat promosi kegiatan, serta mendukung pelaporan dan dokumentasi program secara efektif dan terukur. 

Sebelum pelaksanaan bimtek secara luring, peserta telah mengikuti pra-bimtek secara daring pada 6 Juni 2026 yang membahas ketentuan teknis pelaksanaan, perkenalan dengan pelatih ahli, pre-test, serta pengenalan strategi pengembangan perpustakaan dan penyusunan rencana kerja layanan. 

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, dan mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, perpustakaan harus terus bertransformasi agar tetap relevan sebagai pusat pembelajaran, inovasi, pemberdayaan, dan kolaborasi masyarakat. 

“Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, perpustakaan didorong untuk menghadirkan layanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga. Penguatan kapasitas pengelola perpustakaan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut”, ujarnya.

Tiat juga memaparkan capaian Program TPBIS di Jawa Timur yang terus menunjukkan perkembangan positif tahun 2025, program ini telah menjangkau 38 kabupaten/kota dan 414 desa/kelurahan. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi periode Januari hingga Mei 2026 mencatat 2.995 kegiatan pelibatan masyarakat, 1.152 bentuk advokasi, lebih dari 2,2 juta eksemplar buku cetak, lebih dari 404 ribu koleksi buku digital, dukungan internet sebesar 20.655 bandwidth, serta 597 unit komputer yang mendukung layanan perpustakaan. Publikasi kegiatan TPBIS juga mencapai 3.677 publikasi di berbagai media. 

Tiat berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya wawasan, berbagi pengalaman, serta menyusun rencana pengembangan perpustakaan yang realistis, inovatif, dan berkelanjutan. Selain itu, peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing dengan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar sepanjang hayat, ruang tumbuh kreativitas masyarakat, dan sarana penguatan literasi yang mampu menjawab tantangan era digital.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran yang dipandu oleh 3 (tiga) orang fasilitator yang terdiri dari 2 (dua) orang pelatih ahli dan 1 (satu) orang konsultan literasi masyarakat. Materi yang diberikan meliputi pengantar ilmu perpustakaan, pengembangan koleksi, katalogisasi, klasifikasi, layanan perpustakaan, pelestarian koleksi, pemanfaatan teknologi informasi, strategi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, promosi dan publikasi perpustakaan, sistem informasi manajemen, pengukuran dampak layanan perpustakaan, hingga penyusunan rencana kerja layanan. Kegiatan juga dikemas melalui ceramah, diskusi, simulasi, praktik langsung, dan pendampingan teknis sehingga peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih aplikatif. 

Melalui penyelenggaraan Bimtek SPP-TIK Tahun 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur optimis akan lahir lebih banyak perpustakaan desa dan kelurahan yang adaptif, inovatif, serta mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam memperkuat implementasi Program TPBIS dan mewujudkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *