Surabaya – Selasa (24/2), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Lanjutan Pelatihan Sampah Plastik di ruang Auditorium Literasi. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan teori pengelolaan sampah yang telah dilaksanakan pada Desember tahun lalu dan kini difokuskan pada praktik langsung pengolahan sampah plastik.
Kegiatan ini diikuti oleh 20 pegiat aktif di lingkungan masyarakat dan menghadirkan dua orang narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Bapak Achmad Zaini dan teknisi pengolah sampah plastik, Yolanda. Dalam laporannya, Adi Wiyanto, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan selaku Panitia Penyelenggara, menyatakan bahwa mulai 2026, Disperpusip Provinsi Jawa Timur mengimplementasikan konsep green library atau perpustakaan ramah lingkungan.
“Hari ini kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung pengelolaan sampah plastik,” ujarnya.
Perpustakaan sebagai Ruang Pemberdayaan
Arahan sekaligus pembukaan resmi kegiatan disampaikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Tiat S. Suwardi. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perpustakaan saat ini berkembang melalui konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang peningkatan literasi dan kesejahteraan masyarakat.
“Perpustakaan adalah ruang pembelajaran sepanjang hayat, tanpa batas usia, gender, maupun tingkat pendidikan,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan bahwa transformasi perpustakaan merupakan upaya membangun institusi yang relevan dengan kebutuhan zaman, menghadirkan ruang publik yang mendukung peningkatan kualitas hidup melalui layanan informasi, edukasi, dan pengembangan keterampilan (life skills). Pendekatan inklusif menjadi prinsip utama, memastikan semua lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Konsep tahun 2026 mengusung green library, ditandai dengan hadirnya gazebo, panel surya, hidroponik, tanaman pangan pelataran maos, serta suasana hijau dan sejuk di lingkungan perpustakaan. Berbagai pelatihan seperti hidroponik, content creator, hingga pengolahan sampah dilaksanakan dengan pendekatan berbasis buku sebagai sumber rujukan utama.
Tantangan dan Solusi Pengelolaan Sampah
Materi pertama disampaikan oleh Achmad Zaini dari DLH Provinsi Jawa Timur dengan moderator Sri Purwati.
Dalam paparannya, disampaikan bahwa Surabaya kembali meraih penghargaan Adipura tahun ini, sebagai bukti peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan. Di Jawa Timur sendiri terdapat 1.500 desa/kelurahan yang meraih predikat Berseri.
Namun tantangan masih besar. Pada 2025, timbunan sampah di Jawa Timur mencapai 7 juta ton dari 38 kabupaten/kota, dengan 50,33% telah terkelola dan 49,67% belum terkelola. Sampah rumah tangga mendominasi hingga 62,8%.
Ia mencontohkan sederhana melalui bungkus mi instan. Selain dibuang, kemasan dapat dikelola dan didaur ulang menjadi kerajinan bernilai ekonomi atau disetorkan ke bank sampah. Meski harga di bank sampah relatif rendah, sinergi dan inovasi dapat meningkatkan nilai tambah.
“Bukan yang penting cuan, tetapi yang penting bersih,” tegasnya.
Dipaparkan pula waktu urai berbagai jenis sampah, seperti pampers yang membutuhkan 450 tahun, botol kaca hingga 4.000 tahun, plastik 10–20 tahun, dan kardus sekitar dua bulan.
Materi juga membahas konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengolahan sampah anorganik, ecobrick sebagai solusi kreatif, hingga pentingnya peran bank sampah berbasis masyarakat. Peserta juga diimbau membiasakan membawa pulang sampah konsumsi kegiatan masing-masing sebagai bentuk tanggung jawab pribadi.
Praktik Mesin Pencacah Plastik
Sesi kedua diisi oleh Yolanda, teknisi pengolah sampah plastik, yang memaparkan teknis penggunaan mesin pencacah plastik. Dijelaskan bahwa sebelum dicacah, sampah harus dipilah terlebih dahulu. Mesin berkapasitas 30–40 kg per jam ini dapat mengolah botol plastik, tutup botol, thinwall, dan plastik gelas.
Mesin menggunakan dinamo 2 HP dengan daya 1.500 watt dan dapat dioperasikan dengan atau tanpa air. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai perawatan rutin, pengecekan baut, hingga jeda operasional setiap 20 menit untuk menjaga suhu mesin tetap stabil.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Peserta berbagi pengalaman pentingnya memilah sampah sejak skala kecil, mengurangi penggunaan plastik, serta memastikan kebersihan sebagai bagian dari nilai kehidupan.
Melalui kegiatan ini, Disperpusip Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi sekaligus ruang edukasi lingkungan yang berdampak nyata bagi masyarakat. (di/put)




