Surabaya-Disperpusip. Demikian tagar yang pernah saya baca di sebuah spanduk salah satu organisasi pemerintah daerah yang konsen terhadap penanggulangan bencana. Saya sepakat dengan tagar tersebut. Bencana adalah hal yang tak terduga dan tak diinginkan oleh siapapun. Terlebih wilayah tempat kita tinggal sering mengalami bencana alam baik banjir, tanah longsor, gempa bumi, ataupun erupsi gunung merapi. Kondisi geografis yang demikian membuat kita untuk selalu waspada terhadap setiap bencana.

Sebagai organisasi pemerintah dan sebagai sesama manusia,  perlu kepekaan bila suatu wilayah terkena musibah seperti halnya erupsi gunung kelud dan gempa di sekitar Malang yang pernah terjadi dan yang baru saja terjadi adanya erupsi gunung semeru yang berada di Kabupaten Lumajang.

Selama ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur tanggap dan gerak cepat melakukan bantuan terhadap korban bencana terutama pada fase trauma healing. Bentuk ketanggapan yang diberikan berupa dampingan psikologi pada usia anak, memberikan hiburan edukatif dengan mendongeng dengan berdasar cerita yang diambil dari buku bacaan, bermain dan bernyanyi bersama. Pustakawan dan pendongeng berkolaborasi dalam memberikan bantuan trauma healing tersebut. Buku-buku yang disediakan sesuai dengan selera anak cukup membantu dalam proses penyembuhan trauma akibat bencana.

Banyak yang peduli dan tanggap akan bencana dan tidak sedikit. Selain Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) sebagai organisasi yang konsentrasi tugasnya pada penanganan bencana, ada banyak OPD yang selama ini bergerak sendiri, berinisiatif sendiri dan belum saling berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Hal ini perlu dibuat suatu standar pelaksanaan yang tercantum dalam Standar Operasional Prosedur yang perlu dimatangkan dan disepakati bersama. Siapa punya apa dan siapa mau melakukan apa. Dengan dasar itulah diadakan simulasi untuk membuat SOP dalam penanganan korban bencana.

Bertempat di lapangan Desa Penanggal Kabupaten Lumajang pada Kamis-Jum’at tanggal 19-20 Mei 2022 diadakan Simulasi Penerapan Standar Operasional Terpadu Pelayanan Dapur Balita dan Ruang Ramah Anak Penanganan Bencana Gunung Api Semeru. Terlibat dalam simulasi tersebut selain BPBD juga dari OPD lain seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, DP3AK dan juga relawan tanggap bencana. Juga melibatkan Forum Pengurangan Resiko Bencana dan aparat pemerintahan termasuk polsek dan koramil  setempat. Masing-masing OPD dan aparat terkait bertindak sesuai peranannya.

Simulasi dimulai pada awal terjadinya bencana kemudian pemberitahuan peningkatan status aktifitas gunung semeru dari siaga menjadi waspada dan pemerintah menetapkan status siaga dan warga rentan yang tinggal di daerah beresiko tinggi dievakuasi menuju ke tempat yang aman. Kemudian ada perintah menyiapkan tempat evakuasi sementara, untuk kelompok rentan juga ada perintah untuk melakukan evakuasi kelompok rentan dari daerah beresiko tinggi. Dari warga yang dievakuasi tersebut dilakukan pendataan terpilah warga pengungsian. Selama di pengungsian diberikan pelayanan dasar dan pelayanan psikososial juga pemberian pelayanan dapur balita. Simulasi dibagi pada tiga situasi berdasarkan informasi awal yang diterima, yaitu situasi  peningkatan status dari siaga ke waspada, situasi siaga darurat, dan situasi penurunan status aktivitas Gunung Semeru dari awas menjadi waspada.

Bagaimanapun bencana sudah terjadi dan menjadi tugas bersama bagaimana bencana tersebut tetap dapat dilalui tanpa meninggalkan trauma yang berkepanjangan. (ima)