In This Economy, Masih Baca Fiksi?

Diilustrasikan oleh AI

In this economy, konon membaca pun harus produktif.

Mengutip The Maple Media (2026), dunia sekarang rasanya semakin berat dan bikin cemas karena gempuran isu global, kompetisi kerja yang makin kencang, dan teknologi yang melompat terlalu cepat. Tanpa kita sadari, kondisi ini mendorong kita masuk ke mode siaga (survival mode). Ada ketakutan konstan untuk tidak tertinggal, yang akhirnya membuat kita merasa harus selalu menyerap data dan fakta, termasuk saat membaca.

Setiap bacaan kita ibaratkan investasi; harus mampu membuat kita jadi lebih pintar, lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia. Bahan bacaan kita kurasi sedemikian rupa agar jangan sampai buang-buang waktu. Kerap muncul sepercik perasaan bersalah ketika membaca untuk sekadar hiburan. Membaca fiksi, misalnya.

Riset global telah mencatat jumlah pembaca fiksi dalam beberapa dekade terakhir menurun drastis. Di Amerika Serikat, orang dewasa yang membaca fiksi menurun sampai 37,6% pada 2022, level terendah sepanjang sejarah (National Endowment for the Arts, 2024). Di Indonesia, polanya serupa. Survei GoodStats (2025) menemukan mayoritas publik memilih genre buku yang lebih aplikatif: pengembangan diri (65%), nonfiksi (60,1%), pendidikan (57,4%). Sementara fiksi berada di urutan lebih rendah (50,6%).

Mode siaga ini juga memicu maraknya toxic productivity— dorongan obsesif untuk selalu produktif setiap saat (Salamon, 2024). Salah satu gejalanya ditandai dengan optimized leisure— waktu luang yang dioptimalkan. Alih-alih dinikmati, waktu luang diperlakukan seperti proyek yang harus menghasilkan sesuatu. Membaca pun harus bacaan yang “berguna”, sehingga fiksi kerap jadi salah satu bentuk rekreasi yang kita curigai tidak menghasilkan apa-apa.

Tapi, emang iya… baca fiksi kurang ‘produktif’?

FIKSI DAN FAKTA

Sebelum melangkah lebih jauh, ada satu miskonsepsi yang perlu kita luruskan: fiksi bukan berarti murni khayalan atau imajinasi. Nyaris tidak ada karya fiksi yang benar-benar nonfaktual. Fiksi kerap hanya menyampaikan fakta dengan cara yang berbeda. Epos Mahabharata, misalnya, oleh sebagian sejarawan dipercaya merefleksikan konflik antarkerajaan kuno di anak benua India, meski batas antara sejarah dan mitos di dalamnya sendiri masih jadi perdebatan akademis. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari mengangkat kekerasan politik 1965 di sebuah desa di Banyumas. Max Havelaar karya Multatuli, jauh sebelum itu, membongkar eksploitasi kolonial Belanda di Lebak, ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulisnya sebagai pejabat kolonial. Fiksi, dengan kata lain, kerap menjadi salah satu cara manusia menyampaikan fakta dan realita.

Dalam kasus tertentu, bahkan realita juga bisa jadi berangkat dari fiksi. Kapal selam praktis pertama yang berhasil beroperasi di laut lepas, buah tangan insinyur kelautan Simon Lake, rupanya terinspirasi oleh Twenty Thousand Leagues Under the Sea (1870), novel karya Jules Verne (Encyclopaedia Britannica). Dalam kasus ini, fiksi menjadi pemantik inovasi nyata yang dipakai di masa-masa kemudian.

Tentu saja, tidak semua fiksi berdampak sebesar itu. Efeknya lebih sering tidak disadari karena langsung terjadi di dalam kepala pembacanya.

FIKSI DAN “TELEPORTASI”

Pernah ikut galau berhari-hari karena pasangan tokoh fiksi tidak jadi berjodoh di akhir novel romansa?

Irwanto, Aditomo, dan Natalya (2020) pernah membagi 194 mahasiswa di Kota Surabaya ke dalam dua kelompok: satu diberi bacaan fiksi dari bab pertama novel Violet Evergarden, dan satu lagi diberi bacaan nonfiksi berupa artikel statistik penderita kanker. Setelah dilakukan analisis, pembaca fiksi tercatat mengalami peningkatan skor empati, sedangkan pembaca nonfiksi justru cenderung mengalami penurunan skor empati. Nah lho, kok bisa?

Dalam fiksi, ada yang disebut dengan narrative transportation, sebuah kondisi di mana pembaca meninggalkan dunia nyata sementara dan sepenuhnya larut dalam cerita. Individu yang larut dalam cerita secara mental mengunjungi tempat baru, yaitu dunia yang diciptakan oleh penulis cerita, dan kembali dengan ingatan atau sikap baru karena pengalaman tersebut (Green & Appel, 2024).

Saat membaca fiksi, kita berteleportasi batin; menjalani simulasi dari situasi sosial yang mungkin terjadi di dunia nyata. Imersi ini mengantarkan kita pada proses perspective-taking— pengambilan sudut pandang (Argyle, 2017). Inilah salah satu poin unik yang acap kali kita pandang sebelah mata, bahwa fiksi mewariskan kemampuan untuk berada di dalam kepala orang lain.

Saat membaca fiksi, kita mengalami, memproses situasi tidak terbayangkan, tanpa risiko dan tanpa konsekuensi sungguhan. Boleh dibilang, fiksi menawarkan eksperimen gratis kehidupan. Fiksi memungkinkan pembacanya mengidentifikasi diri sebagai manusia yang sepenuhnya lain, menginterpretasi fenomena dari kepala yang berbeda, bahkan merasakan emosi yang tidak diproduksi oleh persentuhan pengalaman kita sendiri. Fiksi ibarat menunda penilaian; melatih pembacanya agar tidak gegabah mengetuk palu hakim pada orang lain.

Yang menarik lagi, penelitian tersebut juga menunjukkan pembaca nonfiksi justru cenderung mengalami penurunan skor empati. Salah satu kemungkinan untuk memahami temuan ini dapat dilihat melalui teori psychic numbing, di mana angka statistik penderita kanker justru mendorong pembacanya “menutup pintu hati” dan mengalami mati rasa, karena manusia tidak didesain untuk berempati pada skala besar seperti pada miliaran korban (Fogel, 2018; Slovic, 2020).

Apakah ini berarti membaca nonfiksi ‘kurang bermanfaat’ dibanding fiksi? Tentu tidak. Tetapi, penelitian tersebut mengindikasikan respons psikologis terhadap fiksi dan nonfiksi tidak selalu sama.

FIKSI DAN “TERGANTUNG”

Studi lain, Hollis (2021), menemukan proses critical thinking atau berpikir kritis yang terjadi ketika kita membaca fiksi dan nonfiksi juga cukup berbeda.

Pembaca fiksi cenderung evaluativist, alias tim “tergantung”, mempertimbangkan sesuatu dari beberapa sudut pandang sebelum membentuk penilaian. Di sisi lain, beberapa pembaca nonfiksi cenderung absolutist, alias yakin hanya ada satu jawaban yang benar. Dalam penelitian tersebut, jarang ada pembaca nonfiksi yang berpikir multiplist, atau meyakini lebih dari satu jawaban bisa benar.

Selain itu, pembaca fiksi juga menunjukkan skor critical thinking yang lebih tinggi daripada pembaca nonfiksi. Mereka disebutkan memiliki pola pikir kritis experiential: reflektif, melibatkan pergeseran perspektif, serta mengarah pada perubahan personal. Namun, bukan berarti pembaca nonfiksi lantas tidak berpikir kritis sama sekali. Pola pikir kritis pembaca nonfiksi cenderung memiliki batasan dan tujuan, fokus membangun pengetahuan, juga bersifat prosedural.

Perlu diingat, Hollis (2021) menegaskan bahwa temuan ini tidak selalu saklek, kok. Nonfiksi yang cukup imersif ternyata juga dapat memberikan efek narrative transportation yang sama seperti fiksi. Ia menyarankan, daripada mengotak-kotakkan fiksi dan nonfiksi, lebih baik kita bayangkan sebuah gradien “kefiksian” dan “kenonfiksian”. Bacaan nonfiksi bisa jadi memiliki atribut “kefiksian” di dalamnya, begitu pula sebaliknya.

Masih dalam penelitian yang sama, pembaca nonfiksi tadi diminta lagi untuk membaca fiksi selama dua minggu. Hasilnya, skor critical thinking mereka naik signifikan. Hollis (2021) berargumen ini dikarenakan fiksi tidak berusaha membuktikan mana yang benar. Fiksi tidak menggurui, tidak memberi tahu sepuluh langkah menuju kesuksesan— melainkan membiarkan tokohnya gagal dan meninggalkan pembaca dalam kubangan patah hati dan ribuan pertanyaan. Menariknya, kompleksitas yang demikian justru memengaruhi pembaca berpikir lebih kritis tanpa sadar.

Lalu, apakah kalau semakin rajin baca buku, akan semakin kritis?

Temuan ini juga cukup menarik. Ternyata, sering membaca nonfiksi sebentar-sebentar, justru berkorelasi dengan skor critical thinking yang stagnan, atau parahnya, menurun. Skor critical thinking pembaca nonfiksi hanya valid naik jika mereka membaca dalam sesi yang lebih lama, perlahan-lahan, dan fokus. Sementara itu, sering membaca fiksi, baik sebentar-sebentar maupun lama, sama-sama berkorelasi dengan peningkatan skor critical thinking.

JADI, APA BACA FIKSI BISA DIBILANG PRODUKTIF?

Fiksi memang penuh imajinasi; asyik untuk melarikan diri, membisingkan sepi, juga menghibur sakit hati. Barangkali itulah alasan kita dengan cepat berasumsi bahwa fiksi sekadar hiburan, pengisi waktu luang, atau penawar bosan.

Ketika produktivitas menjadi ukuran hampir segala sesuatu, membaca fiksi serasa kemewahan yang perlu dipertanggungjawabkan. Bak investasi jangka pendek, kita mengukur dampak bacaan dengan informasi instan. Namun, perlu kita pertanyakan, apakah seberapa banyak wawasan yang bisa dikeruk dari sebuah buku dapat secara objektif menentukan nilai kebermanfaatannya?

Sebuah novel tidak harus secara eksplisit berbicara tentang keberagaman, keadilan sosial, atau isu-isu besar lainnya, agar pengalaman membacanya dianggap bernilai (Hollis, 2021). Seperti halnya nonfiksi, fiksi bermanfaat dengan caranya sendiri. Membaca fiksi mungkin tidak banyak memberikan informasi faktual, tetapi diam-diam memperluas kapasitas kognitif dan mental— mempertajam perspektif, mengasah empati, menginisiasi pikiran kritis. Membaca fiksi mungkin tidak membuat kita tahu lebih banyak, tapi setelah menutup buku dan kembali ke dunia nyata, bisa jadi kita justru melihat lebih banyak.

Yang paling penting untuk kita garis bawahi, adalah kemungkinan bahwa produktivitas fiksi tidak selalu terletak pada kemampuannya memberikan jawaban, tetapi pada kemampuannya memberi kita lebih banyak cara untuk memahami pertanyaan. Mungkin, membaca produktif tidak selalu tentang menemukan kesimpulan, tetapi juga tentang menutup halaman terakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik. Pada akhirnya, mungkin demikianlah literasi sesungguhnya bekerja— tidak semata-mata ditakar dari informasi yang kita dapat dari buku, tetapi juga menjadi manusia yang seperti apa kita setelah membaca.

Lagipula, nyatanya, meski jumlah pembaca fiksi di seluruh dunia relatif menurun, fiksi masih jadi favorit pemustaka Perpustakaan Jawa Timur, lho. Sepanjang Januari-Agustus 2026, dengan lebih dari 29.000 pengunjung yang datang, buku-buku fiksi masih menjadi pilihan yang paling banyak dibaca dan dipinjam. Artinya, sebenarnya masih banyak orang yang membaca fiksi terlepas dari stigma bacaan kurang ‘produktif’ itu sendiri.

Jadi, tidak perlu khawatir lagi kali berikutnya kita beli atau baca buku fiksi, ya. In this economy, baca fiksi tetap worth it, kok! (put)

Referensi

  • Argyle,  M.  (2017). Social  interaction:  Process  and products (2nd ed.). Routledge.
  • Fogel, S. J. (2018). The not-so-new normal. Familiesin  Society:  The  Journal  of  Contemporary  Social Sciences, 99(2), 91-92. https://doi.org/10.1177/1044389418773730
  • GoodStats. (2025). Survei Preferensi Membaca Buku di Era Digital Tahun 2025. https://goodstats.id/publication/survei-preferensi-membaca-buku-di-era-digital-tahun-2025-c4SzB 
  • Green, M.C. & Appel, M. (2024). Narrative transportation: How stories shape how we see ourselves and the world. Advances in Experimental Social Psychology, 70, 1-82. https://doi.org/10.1016/bs.aesp.2024.03.002 
  • Gregersen, E. Did Jules Verne invent the submarine? Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/story/did-jules-verne-invent-the-submarine 
  • Hollis, H. (2021). The influence of reading fiction upon critical thinking. Doctoral thesis, University College London.
  • Irwanto, K. A., Aditomo, A., & Natalya, L. (2020). “Why Fiction is Better than Reality”: The Influence of Reading Fiction Narrative on Empathy. ANIMA Indonesian Psychological Journal, 35(2), 222-235. https://doi.org/10.24123/aipj.v35i1.2909
  • National Endowment for the Arts. (2024). Federal data on reading for pleasure: All signs show a slump. https://www.arts.gov/stories/blog/2024/federal-data-reading-pleasure-all-signs-show-slump
  • Salamon, M. (2024). Beyond the grind: Toxic productivity and how it sabotages your well-being. Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/beyond-the-grind-toxic-productivity-and-how-it-sabotages-your-well-being
  • Simply Psychology Editorial. (2026). Toxic Productivity: When Getting Things Done Becomes a Compulsion. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.com/articles/toxic-productivity-psychology
  • Slovic, P. (2020). The more who die, the less we care: Confronting the deadly arithmetic of compassion. MDM Policy & Practice, 5(1), 1-9. https://doi.org/10.1177/2381468320914310
  • @themaplemedia. (2026). Kenapa Ya Kita Jarang Baca Fiksi? Instagram. https://www.instagram.com/p/DcqKcqOHyhG/?img_index=7&igsi=cDFlMWRhanJkajkz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *