Berkomitmen Kembangkan Literasi Hijau, Disperpusip Jatim Raih Penghargaan APPeL Hijau Indonesia Awards 2026

SURAKARTA — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional. Atas komitmen dan konsistensinya dalam mengintegrasikan literasi, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian lingkungan, Disperpusip Jatim resmi ditetapkan sebagai penerima penghargaan berskala nasional “APPeL Hijau Indonesia Awards 2026” untuk kategori Green Library.

Penghargaan bergengsi ini diserahkan oleh DPP Asosiasi Penggerak Perpustakaan dan Literasi Hijau Indonesia (APPeL Hijau Indonesia) yang bekerja sama dengan Ekonomi Mandiri Multifarm (EMMF) dalam rangkaian acara Konferensi Literasi Hijau Indonesia (KLHI) ke-3 Tahun 2026 di Surakarta. 

Kegiatan tingkat nasional dan regional yang digagas oleh DPP Asosiasi Penggerak Perpustakaan dan Literasi Hijau Indonesia (APPeL Hijau Indonesia) ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai belahan penjuru Tanah Air—mulai dari Aceh hingga Papua—serta delegasi dari mancanegara (Malaysia).


Inovasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS)

Salah satu alasan utama di balik penganugerahan ini adalah keberhasilan Disperpusip Jatim dalam menjalankan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Seluruh kanal informasi publik milik Disperpusip Jatim dinilai berhasil merekam rekam jejak inovasi hijau dan aksi inklusi sosial secara konsisten, berdampak, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui program ini, perpustakaan hadir sebagai pusat pelatihan keterampilan praktis untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, antara lain:

  • Literasi Lingkungan & Ketahanan Pangan: Menyelenggarakan Pelatihan Hidroponik dan Akuaponik guna mendukung pemanfaatan lahan sempit secara produktif, serta Bimbingan Teknis Pengelolaan Sampah Plastik untuk mengedukasi warga dalam mengolah limbah menjadi barang bernilai guna.
  • Keterampilan & Ekonomi Kreatif: Membekali masyarakat dengan berbagai keahlian bernilai tambah seperti Pelatihan Barista, Pelatihan Barber, Pelatihan Pembuatan Kuliner (Dimsum & Takoyaki), hingga Pelatihan Kerajinan (Hampers & Buket Kerudung).
  • Pengembangan Kecakapan Digital & Komunikasi: Meningkatkan daya saing masyarakat di era digital melalui Pelatihan Public Speaking dan Pelatihan Konten Kreator.

Rangkaian pelatihan ini membuktikan bahwa literasi mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis di tingkat tapak. 

Pembangunan Infrastruktur Ramah Lingkungan (Green Infrastructure)

Selain program pemberdayaan, Disperpusip Jatim bekerja sama dengan tim sinergi TPBIS Jawa Timur secara berani mengambil langkah transformatif dalam menghadirkan fasilitas fisik publik yang berwawasan lingkungan (Green Library). Integrasi konsep hijau di area pelayanan perpustakaan diwujudkan melalui:

  1. Ramah lingkungan dan efisiensi energi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS): Disain arsitektur ruangan yang memaksimalkan pencahayaan alami dengan dinding kaca yang memungkinkan cahaya matahari masuk secara maksimal sehingga mengurangi ketergantungan pada listrik, penambahan interior hijau berupa tanaman hijau yang memberikan kesan alami, meningkatkan kenyamanan, juga mendukung kualitas lingkungan dalam ruangan dan  pemanfaatan energi terbarukan berupa pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber listrik alternatif untuk pencahayaan maupun peralatan tertentu. 
  2. Kebun pekarangan perpustakaan: Perpustakaan mengembangkan kegiatan pertanian sederhana sebagai sarana edukasi dan praktek berkelanjutan bagi pemustaka. Saat ini perpustakaan telah memiliki instalasi hidroponik yang mengintegrasikan penanaman sayuran dan budi daya ikan dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya untuk menggerakkan sirkulasi air dan sedang menginisiasi pemanfaatan pekarangan sebagai kebun produktif dengan menanam berbagai tanaman seperti tomat, cabai, terong, tebu, mentimun dan tanaman holtikultura lainnya. Pengelolaan kebun dengan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik perpustakaan untuk diolah menjadi kompos yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk bagi tanaman.
  3. Gazebo Literasi: Penyediaan ruang baca dan ruang diskusi publik berkonsep terbuka (open space) yang harmonis dengan alam, menciptakan suasana belajar yang asri dan kondusif bagi para pemustaka.
  4. Tong Sampah: Penyediaan sarana pemilahan sampah terintegrasi, khususnya limbah botol plastik, untuk membangun budaya memilah dan mendaur ulang sampah sejak dini sehingga perpustakaan menjadi ruang belajar ekologis yang menunjukkan praktek nyata berkelanjutan kepada masyarakat.
  5. Mesin Pencacah Botol Plastik : mereduksi ukuran limbah botol menjadi serpihan kecil yang seragam guna mempercepat proses daur ulang dan meningkatkan nilai ekonomis material.

Mendorong Pencapaian SDGs di Indonesia

Keberhasilan meraih APPeL Hijau Indonesia Awards 2026 ini menegaskan posisi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur sebagai pelopor ekosistem literasi hijau yang berorientasi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), khususnya pada aspek kesetaraan akses pendidikan, pertumbuhan ekonomi inklusif, penanganan perubahan iklim, serta kemitraan untuk mencapai tujuan. 

Keikutsertaan Disperpusip Jawa Timur dalam ajang KLHI ke-3 ini tidak hanya menjadi wujud pemenuhan tugas kedinasan, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menghimpun gagasan baru yang adaptif dan aplikatif. 

Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Disperpusip Jatim, Adi Wiyanto, S.T., M.M., menyampaikan bahwa gagasan serta rekomendasi dari konferensi ini akan diformulasikan ke dalam rencana aksi pembinaan perpustakaan di Jawa Timur. 

“Perpustakaan hari ini harus mampu bertindak sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan. Melalui pemanfaatan teknologi, penguatan nilai kearifan lokal, serta penyediaan bahan bacaan berwawasan lingkungan, Disperpusip Jawa Timur siap mendorong gerakan literasi hijau agar menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat Jawa Timur,” tegasnya dalam sesi testimoni peserta konferensi. 

Ke depan, hasil dari konferensi ini akan ditindaklanjuti melalui pengayaan koleksi literasi lingkungan, pengembangan pustakawan berwawasan ekologis, penguatan jalinan kolaborasi multisektor, serta integrasi nilai-nilai ekologi lokal ke dalam program-program edukasi masyarakat secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *