Surabaya, 05 Mei 2026 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Replikasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 secara daring. Sebanyak 104 partisipan hadir dalam kegiatan ini yang terdiri dari unsur Kepala Disperpusip Kab./Kota se Jawa Timur atau yang mewakili, fasilitator daerah (fasda) TPBIS kabupaten/kota, relawan literasi masyarakat, perwakilan desa replikasi provinsi Jawa Timur tahun 2026.
Dalam laporannya, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan, Adi Wiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Jawa Timur sekaligus mendorong peningkatan implementasi program TPBIS di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan ini juga menjadi rapat kedua TPBIS yang selanjutnya akan dilaksanakan secara daring maupun onsite.
Selanjutnya, dalam sambutan dan arahannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat informasi dan tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat dan pusat kegiatan positif.
“Penguatan program TPBIS dilakukan melalui peningkatan layanan perpustakaan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta penguatan advokasi, kemitraan, dan keterlibatan masyarakat. Saat ini Jawa Timur telah memiliki mitra TPBIS di 38 kabupaten/kota dan 414 desa/kelurahan replikasi,” ujar Tiat.
Beliau juga menyampaikan bahwa Jawa Timur telah menerima piagam sebagai pelaksana TPBIS terbaik di Indonesia. Keberhasilan tersebut diperkuat dengan adanya Peraturan Gubernur Nomor 86 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial serta Surat Keputusan Gubernur tentang pembentukan Tim Sinergi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Jawa Timur.
Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam program TPBIS Jawa Timur adalah konsep Green Library, yaitu pengelolaan perpustakaan yang ramah lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dengan mengucapkan basmalah, Kepala Dinas secara resmi membuka kegiatan Sosialisasi Replikasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Provinsi Jawa Timur Tahun 2026.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi yang dipandu oleh moderator Ibu Sri Purwati, S.Sos., M.Si. Narasumber pertama, Ibu Perwitasari R., S.Hum selaku Ketua Kelompok Kerja Transformasi dan Inovasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Perpustakaan Nasional RI, menyampaikan materi mengenai arah kebijakan nasional TPBIS Tahun 2026.
Beliau menjelaskan bahwa rendahnya tingkat literasi dan kesenjangan akses informasi masyarakat menjadi latar belakang penting transformasi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang mendukung pencapaian SDGs di bidang pendidikan, kesehatan, kesetaraan, dan pemberdayaan ekonomi.
Selain itu, disampaikan pula bahwa TPBIS memiliki dasar hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 3 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, dan regulasi nasional lainnya. Dalam RPJMN 2025–2029, TPBIS diarahkan untuk memperkuat layanan perpustakaan yang berkualitas dan inklusif, mendorong budaya baca, serta menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar dan ruang bertumbuh bagi masyarakat.
Ibu Perwitasari juga memaparkan berbagai tantangan program TPBIS Tahun 2026, antara lain efisiensi anggaran, kapasitas pengelola perpustakaan yang belum merata, penguatan advokasi dan kolaborasi, serta pentingnya penguatan data dan pemanfaatan teknologi. Jawa Timur disebut sebagai salah satu mitra penguat replikasi TPBIS dengan fokus pada mutu, dampak program, dan kebutuhan lokal masyarakat.
Sementara itu, narasumber kedua, Bapak Andrio Himawan Aji, SH., MH dari Bappeda Jatim memaparkan materi mengenai integrasi TPBIS dalam perencanaan pembangunan daerah Jawa Timur. Dalam paparannya disampaikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 42 juta jiwa serta menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa.
Beliau menjelaskan bahwa penguatan TPBIS mendukung pengembangan sumber daya manusia berkualitas dan tata kelola pemerintahan yang baik. Salah satu program prioritas yang dikembangkan adalah East Java Center of Literacy, yaitu upaya revitalisasi perpustakaan menjadi pusat literasi yang dinamis dan multifungsi sebagai ruang publik pendukung kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan.
Implementasi TPBIS di Jawa Timur juga diwujudkan melalui pelatihan berbasis lingkungan seperti LEGEND (Literacy Eco Green for Education Natural Development), hidroponik, dan aquaponik. Selain itu, kolaborasi multipihak antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas literasi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan penguatan TPBIS di Jawa Timur.
Pada sesi tanya jawab, peserta dari Surabaya dan Kabupaten Probolinggo menyampaikan berbagai pertanyaan terkait keberlanjutan replikasi mandiri TPBIS, dukungan CSR, nomenklatur program, serta pengembangan aplikasi SIM TPBIS. Para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi, pendampingan, dokumentasi dampak program, serta sinergi dengan berbagai pihak agar program TPBIS dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai penutup, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan rencana tindak lanjut berupa rapat tim sinergi pada bulan Mei 2026 serta pelaksanaan bimbingan teknis penguatan TPBIS secara onsite pada bulan Juni 2026 mendatang.
Melalui kegiatan ini diharapkan semangat transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial terus tumbuh dan mampu meningkatkan keberdayaan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat di Jawa Timur. (DI)
Dokumentasi





