DISPERPUSIP JATIM RESTORASI MANUSKRIP LANGKA “BABAD TANAH JAWI” MILIK FIB UNAIR

SURABAYA, 6 April 2025 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur terus mewujudkan komitmennya dalam melestarikan warisan intelektual bangsa melalui restorasi fisik naskah kuno. Kali ini, fokus utama penyelamatan tertuju pada manuskrip koleksi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga yang berjudul Babad Tanah Jawi Adam Dumugi Adipati Demak.

Babad Tanah Jawi Adam Dumugi Adipati Demak merupakan naskah krusial yang merangkum sejarah dan perkembangan awal tanah Jawa, mulai dari era Nabi Adam, masa Walisongo, hingga periode Adipati Demak. Selain memuat silsilah, babad ini menyimpan khazanah informasi mengenai perjalanan spiritual, budaya, tata pemerintahan, serta tradisi masyarakat Jawa masa lampau.

Manuskrip yang diperkirakan berasal dari pesisir Jawa Tengah ini telah berusia lebih dari satu abad. Akibat faktor usia, kondisi fisiknya mengalami kerusakan berat; lembaran kertas menjadi rapuh, sobek, mengalami diskolorasi (perubahan warna), serta penurunan kualitas tinta. Kondisi tersebut memerlukan penanganan khusus guna mencegah kerusakan permanen.

Melalui restorasi fisik, Disperpusip Jatim berupaya menyelamatkan kandungan informasi di dalam naskah tersebut. Proses perbaikan dilakukan dengan prinsip reversibilitas dan menjaga autentisitas manuskrip. Tahapan restorasi meliputi pembersihan permukaan (dry cleaning), penetralan kadar asam kertas (deasidifikasi), penyambungan bagian yang robek (mending) dan penjilidan ulang (binding) pada bagian yang lepas.

Kepala Bidang Deposit, Pengembangan, dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Disperpusip Jatim, Margaretha Sari Prananingrum, S.H., M.Si., menegaskan bahwa naskah kuno bukan sekadar artefak fisik, melainkan sumber ilmu pengetahuan vital bagi lintas generasi.

“Pelestarian naskah kuno adalah upaya menjaga marwah intelektual bangsa. Melalui restorasi, kami tidak hanya menyelamatkan fisik manuskrip, tetapi juga memproteksi pengetahuan, sejarah, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya,” ujar Margaretha.

Selain restorasi fisik, naskah ini juga diproyeksikan untuk proses alih media atau digitalisasi. Perwakilan FIB Unair, Mardhayu Wulan Sari, menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Disperpusip Jatim dalam merawat koleksi akademis tersebut.

“Bagi kami, naskah ini adalah warisan budaya yang tak ternilai. Saya bersyukur Disperpusip Jatim membantu merawat manuskrip ini agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang,” ungkapnya.

Digitalisasi dilakukan agar substansi naskah dapat diakses secara luas oleh peneliti, akademisi, dan masyarakat umum tanpa harus menyentuh fisik asli secara berulang, sehingga meminimalisasi risiko kerusakan lebih lanjut.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi pelestarian jangka panjang Disperpusip Jatim terhadap manuskrip kuno yang tersebar di masyarakat, perguruan tinggi, pondok pesantren, maupun kolektor pribadi. Program ini mencakup pendataan, digitalisasi, hingga penyediaan sarana penyimpanan yang representatif.

Restorasi Babad Tanah Jawi ini diharapkan dapat menambah daftar naskah kuno yang dapat diselamatkan dan didayagunakan serta menjadi teladan bagi masyarakat untuk melaporkan dan merawat koleksi naskah kuno. Pelestarian manuskrip adalah tanggung jawab kolektif demi memastikan identitas budaya bangsa tetap terjaga di masa depan. (wdp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *