Arsip foto negatif (klise) merupakan “harta karun” visual yang merekam jejak sejarah, pembangunan, dan dinamika sosial masyarakat Jawa Timur. Namun, sebagai media yang berbasis bahan kimia (seluloid atau poliester), arsip jenis ini memiliki kerentanan tinggi terhadap kerusakan fisik maupun kimiawi, seperti serangan jamur, noda minyak, hingga sindrom cuka (vinegar syndrome).
Menyadari urgensi tersebut, Bidang Penyelamatan dan Pemanfaatan Arsip Statis di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) secara konsisten melaksanakan kegiatan perawatan berkala melalui metode recleaning atau rewashing. Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas pembersihan rutin, melainkan sebuah tindakan preservasi kuratif untuk memperpanjang usia hidup (life span) arsip statis.
1. Urgensi Kegiatan Recleaning
Seiring berjalannya waktu, arsip foto negatif yang tersimpan seringkali mengalami akumulasi debu mikro dan residu polutan. Jika dibiarkan, partikel-partikel ini akan menyerap kelembaban udara dan menjadi media tumbuh kembang spora jamur yang dapat memakan lapisan emulsi gambar. Kegiatan recleaning bertujuan:
- Memutus rantai pertumbuhan jamur dan mikroorganisme;
- Menghilangkan noda minyak (sidik jari) yang bersifat asam;
- Mengembalikan kejernihan citra visual sebelum dilakukan proses alih media (digitalisasi).
2. Standar Bahan dan Peralatan
Dalam pelaksanaannya, tim teknis Bidang Penyelamatan dan Pemanfaatan Arsip Statis menggunakan material khusus yang aman bagi integritas fisik arsip, yaitu:
- Cairan Isopropanol (Isopropyl Alcohol): Penggunaan isopropanol dipilih karena sifat kimianya yang non-polar dan tingkat volatilitas (penguapan) yang sangat tinggi. Berbeda dengan air yang dapat melunakkan emulsi gelatin secara berlebihan dan berisiko menyebabkan water spot, isopropanol mampu melarutkan lemak dan kotoran dengan cepat lalu menguap seketika tanpa meninggalkan residu kelembaban. Hal ini sangat krusial untuk mencegah negatif film menjadi lembab kembali setelah dibersihkan.
- Kain Majun Katun (Cotton Rags): Media usap yang digunakan adalah kain majun berbahan katun murni yang lembut, memiliki daya serap tinggi, dan tidak berserat kasar. Pemilihan tekstur kain ini sangat penting untuk meminimalisir gesekan abrasif yang dapat melukai permukaan film saat proses pembersihan berlangsung.
3. Prosedur Teknis: Metode Usap Searah (Unidirectional Wiping)
Teknik pembersihan adalah kunci keberhasilan dalam preservasi ini. Tim arsiparis menerapkan metode yang sangat hati-hati untuk menghindari kerusakan mekanis (goresan/baret) pada arsip:
- Persiapan: Arsiparis wajib menggunakan sarung tangan untuk mencegah transfer minyak tubuh ke arsip. Kain majun dibasahi secukupnya dengan cairan isopropanol (tidak sampai menetes/banjir).
- Teknik Pengolesan: Pembersihan dilakukan dengan teknik mengoles secara searah (satu arah tarikan). Gerakan dimulai dari bagian atas klise menuju ke bawah, atau dari kiri ke kanan secara konsisten.
- Larangan Gerakan Memutar: Sangat dihindari melakukan gerakan menggosok secara memutar (circular motion) atau bolak-balik (back-and-forth).
- Alasan Teknis: Gerakan memutar cenderung menjebak partikel debu di bawah kain dan “menggerusnya” ke permukaan film, yang justru menciptakan goresan mikroskopis permanen. Sebaliknya, gerakan searah berfungsi untuk “mengangkat” dan membuang partikel kotoran keluar dari area gambar.
4. Dampak dan Harapan
Melalui kegiatan recleaning yang dilakukan secara berkala ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur memastikan bahwa koleksi arsip foto negatif dapat disimpan dan diakses dalam kondisi prima. Arsip yang bersih tidak hanya lebih awet secara fisik, tetapi juga menghasilkan kualitas gambar yang jauh lebih tajam dan detail saat dilakukan proses alih media digital.
Ikhtiar ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah provinsi dalam menyelamatkan memori kolektif bangsa, memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat melihat sejarah Jawa Timur dengan jernih, bukan melalui lensa yang tertutup debu dan jamur. (ppas/put)



