Bangun Sinergitas Tanggap Bencana, Disperpusip Jatim Beri Pelatihan Mendongeng Bagi Staf BPBD Jatim

SURABAYA, 3 FEBRUARI 2026 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jawa Timur bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dalam memberikan pendekatan layanan secara komprehensif kepada masyarakat, utamanya kepada para pengungsi ketika mereka terdampak bencana. Sinergitas tersebut diwujudkan dalam pelatihan mendongeng serta workshop berliterasi kepada 22 staf BPBD Jatim. Tak hanya cara mendongeng secara efektif dan menarik tapi juga cara sederhana dalam melakukan membaca nyaring (read aloud).

Kepala Disperpusip Jatim, Ir. Tiat S. Suwardi, MSi mengatakan, sinergitas yang dilakukan bertujuan untuk memberikan layanan kepada masyarakat secara holistik. Termasuk dalam pemahaman literasi kebencanaan yang dibangun BPBD Jatim lewat pojok bacanya.

“Kami berharap langkah ini untuk memberikan pendekatan pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat seputar penanganan bencana melalui pendekatan literasi,” jelas Kepala Disperpusip Jatim Ir. Tiat S. Suwardi, MSi di BPBD Jatim, Waru, Sidoarjo, Selasa (3/2/2026).

Salah satu sinergitas tersebut dibangun melalui pendekatan pemahaman mendasar bagi anak-anak melalui cara mendongeng dan read aloud. Termasuk berdirinya pojok baca bagi masyarakat dalam penanganan tanggap bencana.

“Cara ini sangat ampuh dalam memberikan pemahaman sederhana kepada anak-anak dan masyarakat soal penanganan bencana dan bahayanya,” tuturnya.

Menurut Tiat, mendongeng merupakan cara jitu dalam memberikan edukasi. Caranya dengan memberikan pendekatan pemahaman serta edukasi sederhana yang menarik. Apalagi terhadap sebuah bencana alam. Dimana aspek ketenangan, simulasi tindakan dan kepatuhan menjadi hal penting.

“Kami Disperpusip Jatim mencoba mengajak kepada teman-trman BPBD untuk bagaimana tips and trik dalam mendongeng itu bisa tersampaikan,” jelasnya.

Salah satu contohnya, sebut Tiat, yakni menggunakan tokoh hewan atau anak-anak yang cerdik. Tak lupa, disertai pesan siaga, alur pra bencana, saat kejadian hingga pasca bencana secara sederhana.

Masih menurutnya, literasi harus digaungkan bersama-sama dan dimanapun berada. Mengingat, literasi bukan sebatas membaca saja. Tetapi juga untuk pemahaman dan memecahkan masalah.

“Literasi itu tidak hanya soal membaca saja, tapi semua panca indra kita mulai tangan, mulut, hidung, telinga juga. Bagaimana kita bisa optimalkan semua panca indra,” jelasnya.

Salah satunya, melalui mendongeng dan membaca nyaring (read aloud). Metode tersebut dinilai sangat mudah dan mengasyikkan bagi anak-anak untuk menyukai buku.

“Minimal di lingkungan keluarga. Dan ternyata read aloud dan dongeng itu sangat efektif dalam membangun imajinasi anak-anak dalam tumbuh kembang mereka,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, dirinya juga menyinggung hal membaca. Menurutnya membaca menjadi hal penting dan fundamental yang harus dikembangkan sejak dini. Melalui program pojok baca yang menjadi inisiasi dari DWP Provinsi Jatim, dan sebagai motor perubahan, memperkuat dan mempercepat capaian pembangunan daerah melalui budaya membaca dan literasi menuju Indonesia emas 2045.

“Saya memberikan apresiasi kepada BPBD Jatim dalam lomba pojok baca yang diselenggarakan oleh DWP Provinsi Jawa Timur sebagai pemenang pertama. Karena pojok baca yang dibentuk sudah memenuhi kriteria khususnya sarana dan prasarana, koleksi dan SDM serta inovasi yang dibuat,” jelas mantan Pjs. Bupati Ngawi tersebut.

“Mari kita terus bergerak bersama menjadikan perpustakaan sebagai sahabat dan tempat yang selalu dirindukan serta tempat bertumbuh, belajar dan berbagi cerita,” imbuhnya.

Terdapat 22 karyawan BPBD Jatim yang mendapatkan pelatihan mendongeng. Mereka diberikan tips dan trik dalam berdongeng yang menarik. Termasuk workshop cara membaca nyaring (read aloud).

Salah satu pendongeng, Kartikanita Widyasari atau yang sering disapa Kak Ninit itu menjabarkan bahwa tips dan triks mendongeng adalah bagaimana mengawali agar anak-anak keranjingan membaca. Salah satunya bisa diawali dengan dongeng.

“Dongeng adalah cerita nyata atau rekaan dengan cara ekspresif. Sehingga menimbulkan imajinatif. Imajinasi ini yang membuat keranjingan mereka. Dari manakah imajinasi itu. Tanpa disadari dari suka buku,” ujarnya

Tak hanya soal dongeng, perempuan yang juga tergabung dalam Kumpul Dongeng Surabaya itu memberikan workshop tentang cara read aloud.

“Reading is our busnines. Urusan kita semua, apalagi seorang ibu. Pengenalan buku sejak sedini mungkin sangat penting kepada anak-anak,” katanya.

Mendongeng pun bisa dijadikan pijakan agar anak keranjingan untuk membaca. Melalui dongeng dan read aloud diharapkan anak semakin suka dengan membaca buku.

Dikesempatan itu, Kak Nitnit pun mencontohkan bagaimana cara mendongeng yang menarik. Salah satu judul dongeng yang diangkat yakni Awas, Banjir Datang. Dongeng tersebut juga disiarkan melalui media online rutin lewat program Dongeng Online (Dolen) di instagram milik Disperpusip Jatim dihadapan 87 siswa-siswi TK Terpadu Baiturrahman Sidoarjo.

Dirinya pun bercerita bagaimana peristiwa hujan turun begitu deras. Dengan ekspresi yang menarik serta dibumbui suara menggelegar, dirinya bercerita bagaimana dampak hujan yang ditimbulkan jika diakibatkan adanya kerusakan alam yang terjadi.

“Kenapa sering terjadi banjir. Padahal dua tahun lalu rumah kita tidak pernah banjir. Oh itu karena sungai mampat yang makin penuh dengan sampah. Selain itu danau danau dekat rumah sebagian berubah jadi perumahan baru,” cerita Kak Nitnit menirukan kata sangat Ayah dalam cerita tersebut.

“Kenapa bisa banjir? Karena sungai dan danau tidak mampu menampung air. Dan lagi sungai mampat oleh sampah dan sebagian danau berubah jadi perumahan,” imbuhnya.

Lalu bagaimana mencegahnya? caranya yakni semua manusia harus sadar dengan langkah kecil seperti menjaga kebersihan lingkungan. Salah satunya menjaga dan mengurangi sampah.

“Kita juga bisa mendaur ulang sampah agar bisa dipakai lagi, misalnya membuat tas dari plastik pembungkus deterjen. Kita semua bisa mengajarkan. Mari bersahabat dengan alam dengan menanam dan merawat pepohonan,” jelasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *