Surabaya – Literasi tidak selalu dimulai dari buku, tetapi juga dari akses. Sepanjang tahun 2025, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) mencatat total kunjungan ke berbagai layanan perpustakaan mencapai 4.235.209 kunjungan. Angka ini membuktikan fasilitas Disperpusip Jatim aktif dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa Timur.
Kepala Disperpusip Jatim, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil upaya berkelanjutan dalam memosisikan perpustakaan sebagai layanan publik yang adaptif dan inklusif.
“Perpustakaan hari ini tidak lagi kami pandang sebagai tempat membaca buku semata, tetapi sebagai ruang layanan informasi dan pembelajaran yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.
Lebih dari empat juta pemustaka telah menikmati berbagai fasilitas perpustakaan, mulai dari layanan on site, program literasi bergerak seperti Tulip (Tur Keliling Perpustakaan), Darling (Dongeng Anak dan Remaja Keliling), MPK (Mobil Perpustakaan Keliling), hingga layanan digital melalui aplikasi d’Jatim dan program media sosial seperti Dolen (Dongeng Online) dan Bahasa (Bahas Apa Saja). Dari total kunjungan tercatat, pemustaka didominasi oleh mahasiswa dan masyarakat umum.
“Bagi kami, data kunjungan bukan sekadar angka. Yang lebih penting adalah bagaimana layanan tersebut benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Tiat.

Demi mendukung fungsi literasi seutuhnya, Disperpusip Jatim mengelola koleksi bahan bacaan sebanyak 517.488 eksemplar, terdiri dari 507.924 eksemplar koleksi cetak dan 9.564 eksemplar koleksi digital yang terus dikembangkan. Dalam satu tahun terakhir, sebanyak 111.212 judul terpinjam dan 23.277 eksemplar dibaca di tempat. Data tersebut menunjukkan koleksi perpustakaan masih memiliki potensi pemanfaatan yang dapat dioptimalkan.
Dengan hampir empat ribu anggota aktif per tahun 2025, Disperpusip Jatim tidak hanya memperkaya koleksi, tetapi juga terus meningkatkan kualitas sarana dan prasarana layanan. Berbagai ruang baca tematik dan fungsional disediakan untuk menjawab kebutuhan pemustaka, mulai dari ruang baca umum, ruang baca anak, ruang deposit, ruang referensi, co-working space, hingga Auditorium Literasi.
Inovasi layanan juga diwujudkan melalui pengimplementasian konsep perpustakaan ramah lingkungan (green library). Kehadiran gazebo literasi berbasis energi surya, Selasar Literasi sebagai area baca terbuka, Inkubator Literasi dengan pencahayaan alami, serta Galeri Majapahit dan Wali Limo menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman literasi yang lebih menarik dan ramah lingkungan.
“Kami ingin perpustakaan menjadi ruang publik ramah lingkungan, relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai sumber pengetahuan,” imbuh Tiat.
Melalui penguatan layanan, inovasi fasilitas, serta pengembangan ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan, Disperpusip Jatim terus memantapkan perannya sebagai pusat literasi di Jawa Timur (East Java Center of Literacy). Ke depan, pengembangan layanan akan diarahkan pada perluasan akses, optimalisasi pemanfaatan teknologi, serta penerapan prinsip ramah lingkungan.
“Akses yang semakin terbuka ini (jadi) kunci tingginya pemanfaatan layanan perpustakaan. Pusat literasi tidak berarti hanya ada di satu titik, tetapi hadir dan mudah dijangkau oleh masyarakat Jawa Timur,” pungkas Tiat. (put)

