Selamatkan Arsip Jenderal Soedirman, Museum Brawijaya dan Dispusip Jatim Lakukan Alih Media

SURABAYA — Upaya penyelamatan memori kolektif bangsa kembali dilakukan secara masif. Senin (6/4), Museum Brawijaya secara resmi menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) untuk melakukan digitalisasi atau alih media terhadap puluhan arsip bersejarah. Langkah strategis ini difokuskan pada penyelamatan koleksi foto positif Panglima Besar Jenderal Soedirman serta berbagai dokumen kartografi dan peta rute gerilya koleksi Museum Brawijaya.

Penyerahan dokumen sejarah tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Perpustakaan Museum Brawijaya, Mustakim, kepada Ketua Tim Preservasi dan Restorasi Arsip Statis Disperpusip Jatim, Isnat Kusnanto. Proses alih media ini dinilai mendesak guna melindungi lembaran dokumen otentik yang semakin rentan terhadap kerusakan usia maupun faktor lingkungan.

Menariknya, tahapan digitalisasi ini tidak serta-merta langsung dilakukan. Sebelum masuk ke proses pemindaian (scanning), tim dari Dispusip Jatim harus melakukan langkah restorasi fisik terlebih dahulu terhadap beberapa koleksi peta. Tindakan perbaikan fisik ini mutlak diperlukan mengingat kondisi sejumlah lembar peta yang rapuh dan memerlukan penanganan khusus. Restorasi ini bertujuan untuk memastikan dokumen tidak semakin rusak saat dipindai, sekaligus menjamin agar detail informasi dalam hasil digitalisasi tergambar secara utuh dan tajam.

Selama proses restorasi hingga pemindaian berjalan, tim preservasi arsip Dispusip Jatim memegang kendali penuh sekaligus tanggung jawab mutlak atas keamanan dan keutuhan fisik arsip. Nantinya, seluruh hasil digitalisasi ini akan dimanfaatkan secara eksklusif untuk memperkuat sistem pelestarian data sejarah dan optimalisasi tata kelola arsip statis di wilayah Jawa Timur. Upaya penyelamatan ini juga diiringi jaminan ketat antarlembaga bahwa seluruh arsip, baik secara fisik maupun digital, terlindungi dari segala bentuk penyalahgunaan di luar koridor kedinasan.

Sinergi pelestarian ini sekaligus menjadi penegas komitmen jangka panjang lintas instansi dalam menjaga marwah warisan sejarah. Oleh karena itu, tidak hanya berhenti di Museum Brawijaya, Disperpusip Jatim juga mengajak semua pihak, baik lembaga maupun perorangan, yang memiliki atau menyimpan arsip bernilai historis untuk bersama-sama melakukan penyelamatan arsip. Penyelamatan arsip bernilai historis tinggi ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan wujud nyata tanggung jawab moral kepada negara. Dengan beralihnya rekam jejak sejarah ke dalam ekosistem digital, akses literasi dan pengetahuan bagi generasi mendatang dipastikan akan semakin terbuka lebar. Melalui langkah ini, para pelajar, peneliti, dan masyarakat luas di masa depan tetap dapat mempelajari semangat perjuangan bangsa, tanpa harus membahayakan keaslian dokumen aslinya. (ppas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *