Selama bertahun-tahun, kawasan rawa Campurdarat di selatan Tulungagung menyimpan realitas pahit berupa banjir besar musiman yang menenggelamkan permukiman dan melumpuhkan kehidupan masyarakat. Namun, sejarah mencatat sebuah tonggak penting perlawanan manusia terhadap kekuatan alam.
Sebagai upaya merawat ingatan kolektif tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur mempersembahkan pameran virtual arsip bertajuk “Cahaya di Ujung Neyama: Mahakarya Terowongan Tulungagung Selatan Era 1959-1961”. Melalui platform Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN), pameran daring ini mengajak publik menelusuri koleksi arsip sejarah secara interaktif dan visual dari mana saja.
Dari Jejak Kelam Romusha Menuju Simbol Kemandirian Bangsa
Sejarah pembelahan bukit kapur di Tulungagung untuk mengalirkan air bah ke Samudra Hindia sejatinya bermula dari inisiasi masa pendudukan Jepang. Proyek yang mengorbankan ribuan nyawa pekerja paksa (romusha) ini melahirkan sebutan “Neyama” atau gunung baru.
Akan tetapi, fokus utama pameran ini tidak diletakkan pada masa kelam tersebut, melainkan pada kebangkitan bangsa Indonesia pascakemerdekaan. Pada periode krusial 1959 hingga 1961, para insinyur anak bangsa mengambil alih, merancang ulang, dan menuntaskan proyek ini dengan memadukan ilmu rekayasa teknik sipil dan semangat gotong royong yang kuat. Keberhasilan Terowongan Tulungagung Selatan bukan sekadar seremoni penyelesaian infrastruktur fisik, melainkan proklamasi kemenangan atas bencana yang menyulap ribuan hektare rawa mematikan menjadi lumbung pertanian yang subur.
Napak Tilas Visual Menembus Lorong Waktu
Seluruh memori kolektif yang dihadirkan dalam pameran virtual ini bersumber dari Khazanah Arsip Departemen Penerangan Jawa Timur. Melalui kurasi arsip foto-foto bersejarah, pengunjung akan diajak menembus lorong waktu menyaksikan bagaimana perbukitan kapur selatan Tulungagung dibelah.
Rangkaian visual merangkum linimasa yang komprehensif, mulai dari pengerjaan proyek yang menuntut ketangguhan fisik, momen peninjauan lapangan oleh para tokoh, hingga detik-detik penuh haru saat peresmian Terowongan Tulungagung Selatan. Setiap bingkai foto menyuarakan peluh, dedikasi, dan kebanggaan yang tak ternilai.
Kunjungi pamerannya sekarang! Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat sejarah Indonesia dari perspektif yang lebih mendalam dan melihat langsung bagaimana epos mahakarya ini dibangun. Mari perluas wawasan sejarah Anda dengan menjelajahi pameran ini.
👉 Klik tautan berikut untuk mengunjungi Pameran Virtual “Cahaya di Ujung Neyama”: https://jikn.anri.go.id/pameran-virtual/270

