Kemampuan membaca merupakan faktor penting dalam mengembangkan wawasan, pola pikir dan pemahaman terhadap beragam konteks kehidupan masyarakat. Tertuang dalam Undang-Undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab XIII pasal 48 ayat 1 upaya pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui tiga jalur yaitu keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat, melalui pengembangan pola pikir yang kritis mendukung kesiapan individu dalam melihat peluang dan menjawab tantangan diera global ini. Dalam membangun kegemaran membaca diperlukan kolaborasi, antara keluarga, sekolah, komunitas, masyarakat, dan pemerintah. Untuk memotivasi pembentukan kegemaran membaca kepada anak-anak pemerintah mengadakan lomba guna meningkatkan minat baca anak. Salah satunya dengan mengadakan lomba bercerita atau mendongeng, yang mulai tingkat anak-anak sampai dewasa. Karena dengan mendongeng/bercerita apa yang diinginkan dapat tersampaikan. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk dan menarik anak-anak agar gemar membaca.

Dongeng memiliki peran dan fungsi yang cukup penting di dalam mendidik dan menyampaikan ajaran moral. Namun, ia juga bersifat menghibur. Maka tidak heran jika dongeng kini menjadi sesuatu yang sangat banyak diminati, khususnya oleh kalangan orang tua di dalam mendidik anak-anak mereka.

Dongeng diceritakan dengan memakai alur yang sangat sederhana. Penulisannya pun juga sangat singkat dan bergerak secara cepat. Dan di dalam dongeng sendiri umumnya karakter dari tokoh tidak diceritakan secara rinci. Bagaimana cara mendongeng yang menarik? Semakin anak serius untuk mendengarkan dongeng kita, maka pesan dongeng yang kita bawakan tersampaikan dengan baik Ada beberapa tips mendongeng untuk anak-anak. Mendongeng untuk anak-anak di rumah berbeda tehniknya dengan mendongeng untuk anak-anak di luar rumah. Mendongeng di rumah kita bisa duduk di sofa, atau tempat tidur. Sedangkan mendongeng untuk banyak anak-anak dan dilakukan di luar rumah, membutuhkan persiapan “sedikit “ ekstra

  A. TIPS-TIPS MENDONGENG :

1.  Menentukan Cerita

Pilih atau tulislah cerita yang menarik dan cocok untuk usia mereka. Jadi penting sekali mengetahui audiens atau pendengar dongeng kita. Karena lebih baik bila disesuaikan dengan usia mereka dengan konflik cerita. Tentu berbeda mendongeng untuk anak usia 4-5 tahun dengan anak-anak usia 6-7 tahun. Bisa juga dalam mendongeng disesuaikan dengan tema atau kejadian saat akan bercerita/mendongeng.

2.  Persiapan mendongeng

Lakukan persiapan yang memadai misalnya dengan membaca cerita yang dibawakan, lalu hafalkan cerita. Selanjutnya, latihan membawakan peran-peran dalam dongeng tersebut.karenaStorytelling tidak sama dengan Story reading. Saat storytelling usahakan jangan membaca. 

3.  Variasi suara

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai 7 versi suara, tetapi harus dilatih untuk mendapatkan ke tujuh versi suara tersebut. Jadi latihan sangat perlu 7 versi suara itu adalah

a.     Suara normal atau suara tanpa rekayasa atau disebut juga suara asli kita.

b.    Suara lembut dan hangat, suara itu terdengar sangat bersahabat

c.     Suara lemah ketika sakit atau mengantuk

d.    Suara cempreng

e.     Suara besar yang nadanya dibuat rendah

f.     Suara seram

4.  Tokoh Cerita 

Agar anak-anak fokus dan tidak bingung, sebaiknya tokoh dalam cerita kita maksimal 4 tokoh peradegan. Ini juga memudahkan kita mengatur atau berganti-ganti versi suara. Bisa dibayangkan tokohnya banyak dalam satu adegan.

5.  Opening Cerita 

Selalu buka adegan pertama dengan narasi. Bicara dengan suara narator yang lembut, hangat, dan ramah. Ini penting, untuk mengantar anak ke tempat peristiwa atau setting berlangsung. Kalau opening dibuka dengan dialog, bisa saja anak-anak bingung.

6.  Alat Peraga

Biar dongeng yang dibawakan menarik, bisa memakai alat peraga, namun ini pilihan. Karena terkadang ditempat acara, tidak selamanya tersedia mic yang dipasang dikepala atau dijepit dibaju. Karena terkadang, memakai alat peraga membuat tidak leluasa memegang mic biasa.

Tapi perlu diingat, bila tanpa alat peraga, maka harus ada eksplorasi bahasa tubuh. Misalnya ketika kita membawakan tokoh ibu, tentu cara berjalannya berbeda dengan anak usia 6 tahun. Berbeda juga ketika menjadi tokoh ayah.

7.  Penetralisir keadaan

Jika anak-anak gaduh, saat bercerita ada banyak cara misalnya dengan mengajak bernyanyi atau menceritakan pengalaman lucu, bisa juga memberi tebak-tebakan atau mengajukan pertanyaan seputar dongeng yang kita bawakan. Jangan lupa memberi pujian bila anak menjawab benar. Bahkan bila disediakan hadiah, boleh memberi hadiah. (Oemi Hanik, S. Sos)