Pembangunan pasca Indonesia Merdeka dititikberatkan pada membangun perekonomian bangsa. Sayangnya, seringkali pembangunan ini tidak memihak pada kepentingan rakyat. Rakyat lebih banyak menjadi obyek penderita dari sebuah perubahan dan pembangunan. Masalahinilah yang terns berlanjut dari masa ke masa.

Kondisi sosial ekonomi dan politik yang belurn stabil pada sekitar tahun 1950 – an masih menyisakan banyak masalah bagi seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya harga-harga melambung tinggi, daya beli masyarakat menurun. Sementara upah pegawai, dan buruh sangat rendah. Hal ini memicu demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat terutama kaurn buruh.

Karyawan dari berbagai perusahaan seperti: KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschappij), Handelsbank Maatschappij, Unilever, Perusahaan Tegel dan Beton Ligvoet, Kantor Pos dan Telegraf serta masyarakat luas menggelar demonstrasi di mana- mana. Demo ini diikuti dengan pemogokan dan pawai berkeliling kota sambil membawa sejumlah poster.

Gedung Grahadi sebagai tempat kediaman Gubemur J awa Timur, tidak Iuput dari kerumunan massa yang berdemo. Mereka urnumnya menuntut diturunkannya barga, pencabutan peraturan-peraturan perburuhan dan peraturan lain yang makin memberatkan kehidupan kaurn buruh. Organisasi buruh, seperti SOBSI yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia dan Serikat-serikat Pekerja dari berbagai perusahaan segera mengadakan konggres. Menteri Perburuhan juga menyempatkan diri hadir di Surabaya untuk meredam gerakan massa buruh.

Sementara itu, perindustrian yang berturnpu pada perekonomian rakyat turut berkembang seiring dengan pembangunan yang ada. Berbagai industri, seperti industri berat yang mendukung pembangunan pertanian, uji coba traktor “Dewi Sri”, industri rokok, industri tekstil, dan lain-lain banyak memanfaatkan tenaga rakyat sekitar untuk mendukung laju pertumbuhan industri.

Industri-industri perkebunan rakyat, seperti : kayu putih, tebu, kopi, karet dan sebagainya, sedikit banyak juga memberi peluang kesempatan pada masyarakat untuk turut memberi kontribusi pada perturnbuhan perekonomi.an bangsa. Keberadaan karyawan dan buruh yang ada di pabrik dan perusahaan juga memberi mata pencaharian tersendiri bagi sebagian lapisan masyarakat.

Pemerintah Propinsi Jawa Timur tidak begitu saja melepas pertumbuhan perekonomian mikro, meskipun situasi sosial politik tidak begitu mendukung. Berbagai gerakan baik yang ditimbulkan oleh Belanda maupun bangsa Indonesia sendiri terjadi di mana-mana. Pemerintah tetap pada komitmennya untuk tetap menjaga kesejahteraan rakyat walaupun banyak sekali rintangan yang dihadapi.

Meletusnya G 30 S PKI dianggap sebagai puncak peristiwa yang memberi dampak tersendiri pada rakyat jelata. Di mana-mana terjadi peristiwa mengenaskan. Hal ini diperparah dengan keterlibatan sejumlah aparat pemerintah pada peristiwa ini. Akibatnya pemerintah pun sempat mengalami stagnasi, meskipun tidak sampai menghancurkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Pembangunan tetap dilaksanakan untuk memberi keseimbangan pada kehidupan.

Koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa juga memberi makna tersendiri bagi pertumbuhan masyarakat sampai ke pelosok desa. Berbagai jenis usaha dikembangkan oleh koperasi , seperti usaha penggilingan padi, usaha simpan pinjam, usaha pertokoan, dan lain-lain, untuk membantu kesejahteraan anggota. Di samping itu juga usaha perbankan dilakukan oleh Bank Negara Indonesia secara berkeliling agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Bidang pertanian dan hortikultura juga mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Seiring dengan pertumbuhan perekonomian, bidang budaya pun dapat berkembang dengan baik. Berbagai kebudayaan yang bertumpu pada tradisi masyarakat tetap mendapat ruang yang baik. Tradisi-tradisi seperti ziarah ke Gunung Kawi, Sedekah Laut, Karapan Sapi, Tradisi Masyarakat Bromo, Pertunjukan Reog, banyak menarik wisatawan aging untuk menggali potensi budaya Jawa Timur.

Semuanya memberi nilai tambah bagi investor asing untuk banyak menanamkan modalnya. Dalam iklim perekomomian berbasis Pancasila, dengan didukung budaya Gotong Royong yang telah mengakar di masyarakat kita. Pembangunan bangsa tiada artinya tanpa kita membangun mental bangsa. Maka melalui pembukaan pendidikan yang ditujukan untuk rakyat di pedesaan, dibukalah Sekolah Dasar. Di sekolah tersebut, siswa diajarkan berbagai kerajinan tangan. Dengan demikian anak didik sejak dini sudah ditempa untuk menjadi Sumber Daya Manusia yang siap pakai jika kelak terjun ke masyarakat.

Pembangunan terus bergulir. Bagaimanapun Propinsi Jawa Timur masih memerlukan SDM handal yang akan bersama-sama memajukan bangsa. Rekonsiliasi pun segera ditempuh. Dengan alasan kemanusiaan dan membangun mental spiritual, pemerintahan memberikan grasinya pada sejumlah eks Tahanan Politik. Mereka dikembalikan ke pangkuan keluarganya.

Dengan menumpang kapal PELNI, para eks Tahanan Politik tiba di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Meskipun tanpa sambutan resmi dari pemerintah, kehadiran mereka diterima dengan tangan terbuka. Semoga saja kehadirannya membawa arti bagi kita semua dan turut mengisi hari-hari pembangunan yang kian laju dari masa ke masa. Kita semua berharap untuk kejayaan Propinsi Jawa Timur.